MALUKU – Aktivitas seismik kembali tercatat di wilayah timur Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,3 di kawasan barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Jumat (30/01/2026) pagi. Gempa tersebut menjadi bagian dari dinamika tektonik yang kerap terjadi di kawasan perairan timur Nusantara yang berada pada jalur pertemuan lempeng aktif.
BMKG mencatat peristiwa gempa terjadi pada pukul 07.49 WIB. Berdasarkan data awal, pusat gempa berada pada koordinat 6,63 lintang utara dan 123,50 bujur timur. Lokasi tersebut berada cukup jauh dari wilayah permukiman padat, yakni sekitar 401 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 16 kilometer.
“#Gempa Mag:5.3, 30-Jan-2026 07:49:12 WIB, Lok:6.63 LU, 123.50 BT (401 km barat laut Tahuna-Kep. Sangihe-Sulut), Kedlmn:16 km,” demikian keterangan BMKG.
Kedalaman gempa yang tergolong dangkal hingga menengah tersebut berpotensi menyebabkan getaran terasa di beberapa wilayah, meskipun pusat gempa berada di wilayah laut. Namun hingga laporan ini disusun, belum ada laporan resmi terkait kerusakan bangunan, korban jiwa, maupun gangguan aktivitas masyarakat akibat peristiwa tersebut.
BMKG menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meski demikian, masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan tetap diimbau untuk tetap waspada dan tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial.
Dalam keterangannya, BMKG juga menekankan bahwa informasi awal yang dirilis masih bersifat sementara dan dapat mengalami pembaruan seiring proses verifikasi data lanjutan.
“Disclaimer: Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” ujarnya.
Kawasan Kepulauan Sangihe dan perairan sekitarnya memang dikenal sebagai wilayah rawan gempa karena berada di zona pertemuan lempeng Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Aktivitas seismik di kawasan ini menjadi bagian dari proses geologi alamiah yang sulit dihindari, sehingga kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam mitigasi bencana.
Sejumlah pihak mengingatkan pentingnya edukasi kebencanaan bagi masyarakat pesisir dan kepulauan, terutama terkait prosedur evakuasi mandiri, pemahaman jalur aman, serta kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus memperkuat sistem peringatan dini dan sosialisasi kebencanaan agar risiko korban dapat diminimalkan jika terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar di masa mendatang.
Hingga saat ini, aktivitas masyarakat di wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya dilaporkan masih berjalan normal. Aparat setempat tetap melakukan pemantauan situasi lapangan sambil menunggu pembaruan informasi resmi dari BMKG terkait perkembangan aktivitas seismik lanjutan. []
Diyan Febriana Citra.

