SANGATTA — Fokus penguatan layanan kesehatan daerah menjadi isu utama dalam pertemuan antara Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim). Pertemuan yang berlangsung di Ruang Tempudau, Kantor Bupati Kutim, Rabu (04/02/2026), itu menjadi bagian penting dari rangkaian kunjungan kerja Banggar dalam rangka sinkronisasi penyusunan APBD Perubahan 2026 dan APBD 2027.
Pertemuan tersebut tidak sekadar membahas teknis anggaran, tetapi juga menyoroti arah kebijakan pembangunan, khususnya sektor kesehatan sebagai layanan dasar yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Sejumlah anggota Banggar DPRD Kaltim hadir, di antaranya Muhammad Darlis Pattalongi, Arfan, dan Agusriansyah Ridwan.
Rombongan Banggar diterima Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Setkab Kutim, Noviari Noor, bersama jajaran perangkat daerah terkait. Dalam sambutannya, Noviari menekankan pentingnya keselarasan kebijakan antara pemerintah provinsi dan kabupaten agar program prioritas tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Kami menyambut baik kehadiran DPRD provinsi. Ini bentuk komitmen bersama agar APBD provinsi dan kabupaten benar-benar selaras demi pelayanan publik yang lebih baik,” ujarnya.
Isu kesehatan menjadi perhatian dominan dalam diskusi tersebut. Anggota Banggar DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, menyoroti implementasi program Gratispol Kesehatan, yang merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Kaltim. Ia menilai, manfaat program tersebut harus dirasakan secara merata, tidak hanya terpusat di fasilitas kesehatan milik provinsi.
“Diskusi ini penting untuk memastikan apakah rumah sakit daerah juga masuk dalam skema Gratispol Kesehatan. Prinsipnya, akses layanan kesehatan harus merata di seluruh Kaltim,” tegas Agusriansyah.
Menurutnya, tanpa koordinasi sejak tahap perencanaan, kebijakan provinsi berpotensi tidak terakomodasi secara maksimal dalam dokumen anggaran kabupaten. Karena itu, sinkronisasi lintas pemerintahan menjadi krusial agar kebijakan strategis benar-benar berdampak di lapangan.
Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Triana, memaparkan kondisi faktual layanan kesehatan di daerah. Ia menjelaskan bahwa Pemkab Kutim telah membangun dua rumah sakit daerah di Kecamatan Muara Bengkal dan Sangkulirang sebagai upaya memperluas akses layanan bagi masyarakat pedalaman dan wilayah pesisir.
Selain itu, Pemkab Kutim juga tengah menyiapkan pembangunan rumah sakit baru di Kecamatan Wahau. “Lahan sekitar tujuh hektare sudah siap, bersertifikat, dan dibersihkan. Kami mengusulkan anggaran sekitar Rp50 miliar untuk pembangunan fisik pada 2027,” kata Triana.
Namun, Triana menegaskan bahwa pembangunan fisik saja tidak cukup. Keterbatasan sumber daya manusia kesehatan, terutama dokter spesialis, masih menjadi persoalan serius. Kondisi tersebut terasa di RS Muara Bengkal setelah adanya pengunduran diri sejumlah tenaga medis.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Kutim menjalin kerja sama dengan Pemprov Kaltim melalui mekanisme rekrutmen tenaga kesehatan. Di sisi lain, Triana juga menyampaikan capaian Universal Health Coverage (UHC) Kutim yang telah mencapai 100,6 persen dan mendapat penghargaan dari pemerintah pusat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian administratif tersebut harus diikuti peningkatan mutu layanan. “UHC adalah modal penting, tapi tanpa fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai, pelayanan belum tentu optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Darlis Pattalongi menegaskan bahwa kunjungan kerja Banggar bertujuan menyerap kebutuhan daerah secara langsung sebagai dasar penyusunan Rancangan APBD 2027.
“Kami hadir untuk mendengar langsung. Perencanaan anggaran ke depan harus lebih matang, apalagi dengan dinamika kebijakan fiskal dari pusat,” katanya.
Anggota Banggar lainnya, Arfan, menambahkan bahwa pemerintah daerah perlu menyiapkan data teknis yang kuat dan terdokumentasi dengan baik agar kebutuhan Kutim tidak terlewat dalam pembahasan anggaran, termasuk dalam upaya mengakses dukungan APBN.
“Data yang kuat akan memperbesar peluang dukungan pusat. Itu yang sedang kami dorong,” tandasnya. []
Diyan Febriana Citra.

