Gudang Mebel Ekspor di Jepara Ludes Terbakar

Gudang Mebel Ekspor di Jepara Ludes Terbakar

Bagikan:

JEPARA — Kebakaran hebat melanda kawasan industri mebel di Kabupaten Jepara dan menghanguskan gudang milik PT Pijar Sukma Furniture yang berada di Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Selasa (06/01/2026) petang. Peristiwa tersebut menyebabkan kerugian besar setelah sedikitnya lima kontainer mebel siap ekspor ludes dilalap api.

Gudang dua lantai yang difungsikan sebagai area produksi sekaligus penyimpanan itu terbakar hampir tanpa sisa. Api yang berkobar sejak sore hari memunculkan asap hitam pekat yang membumbung tinggi dan terlihat dari kejauhan. Kondisi itu sontak mengundang perhatian ratusan warga sekitar, termasuk para pekerja yang berdatangan untuk memastikan kondisi rekan kerja dan aset perusahaan.

PT Pijar Sukma Furniture dikenal sebagai salah satu produsen furnitur klasik di Jepara yang berorientasi ekspor. Perusahaan yang berdiri sejak 14 Agustus 1999 tersebut memasarkan produknya ke berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika, hingga Australia, serta menyerap ratusan tenaga kerja lokal. Kebakaran ini pun memunculkan kekhawatiran terhadap dampak lanjutan bagi aktivitas produksi dan kelangsungan usaha.

Kepala Satpol PP dan Damkar Jepara, Edy Marwoto, menjelaskan bahwa laporan kebakaran diterima pihaknya sekitar pukul 17.10 WIB. Saat petugas tiba di lokasi, api sudah membesar dan melahap bagian atas gudang sebelum akhirnya menjalar ke lantai bawah.

Disebutkan, api pertama kali muncul dari lantai atas, kemudian dengan cepat merembet ke lantai bawah. Gudang dua lantai dengan luas sekitar 40 x 20 meter itu terbakar hampir seluruhnya. Barang-barang produksi yang sudah jadi ikut hangus, termasuk yang berada di area bawah.

Ironisnya, sebagian besar barang yang terbakar merupakan produk yang telah melalui proses akhir dan siap dikirim ke luar negeri. Sedikitnya lima kontainer mebel, seperti tempat tidur, meja, dan kursi yang telah selesai difinishing, musnah sebelum sempat dimuat ke dalam kontainer atau dilakukan proses stuffing.

Hasil penelusuran sementara mengarah pada dugaan kelalaian prosedur keselamatan kerja. Kebakaran diduga dipicu oleh aktivitas pengelasan yang dilakukan saat pengerjaan atap gudang di lantai atas. Percikan api dari proses tersebut diduga mengenai material mudah terbakar yang berada tepat di bawah area kerja.

“Pemicunya diduga dari aktivitas pengelasan. Percikan api mengenai tumpukan foam (busa) dan kertas. Api cepat membesar karena di dalam gudang penyimpanan banyak material mudah terbakar seperti kayu, foam, dan kertas,” ungkapnya.

Untuk mengendalikan kobaran api, petugas mengerahkan total 13 armada yang terdiri atas enam unit mobil pemadam kebakaran, dua unit dari Dinas Lingkungan Hidup, satu unit BPBD, serta bantuan armada dari perusahaan di sekitar lokasi pabrik. Proses pemadaman berlangsung cukup lama mengingat banyaknya bahan mudah terbakar di dalam gudang.

Hingga pukul 20.30 WIB, petugas masih melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala. Di saat bersamaan, sejumlah pekerja dan warga tampak menyaksikan proses tersebut dari luar pagar dengan raut cemas.

Meski kebakaran terjadi saat masih ada beberapa pekerja di dalam gudang, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Seluruh pekerja berhasil menyelamatkan diri sebelum api membesar. Namun demikian, kerugian material ditaksir mencapai miliaran rupiah.

“Kerugian masih kami hitung dan lakukan konfirmasi, terutama berdasarkan invoice barang yang terbakar,” sebutnya.

Saat kejadian, aktivitas pabrik sebenarnya sudah hampir berakhir dan mayoritas pekerja telah pulang. Kondisi itu dinilai turut mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

“Produk utama furniture, semua perabotan ada. Saat kejadian pertama masih ada sejumlah pekerja, untungnya selamat semua,” tandasnya. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Kasus