LUMAJANG — Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan. Pada Sabtu (03/01/2026) pagi, gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami erupsi yang disertai lontaran abu vulkanik. Kondisi ini mendorong otoritas terkait untuk kembali mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi tercatat terjadi pada pukul 05.28 WIB. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 700 meter di atas puncak gunung, atau setara dengan 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kolom abu tampak jelas dari sejumlah titik pemantauan di sekitar kawasan Semeru.
Petugas Pos Pantau Gunung Semeru, Liswanto, menyampaikan bahwa material abu yang dikeluarkan teramati cukup signifikan. Arah sebaran abu mengikuti pola angin yang bertiup pada saat erupsi berlangsung.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah utara. Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung,” kata Liswanto dalam laporan tertulisnya.
Selain aktivitas erupsi, PVMBG juga mencatat peningkatan kegempaan yang cukup intens dalam beberapa jam terakhir. Dalam laporan periodik selama enam jam pengamatan, tercatat sebanyak 44 kali gempa letusan dengan amplitudo antara 11 hingga 22 milimeter serta durasi gempa berkisar 89 sampai 110 detik. Aktivitas ini menunjukkan adanya tekanan magma yang masih aktif di dalam tubuh gunung.
Tak hanya gempa letusan, PVMBG juga merekam tujuh kali gempa guguran dengan amplitudo 4–6 milimeter dan durasi 29–38 detik. Gempa guguran ini menandakan adanya pergerakan material vulkanik di sekitar puncak dan lereng gunung yang berpotensi memicu bahaya lanjutan, terutama jika intensitasnya meningkat.
Meski aktivitas Gunung Semeru terpantau fluktuatif, hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan fasilitas maupun korban jiwa akibat erupsi tersebut. Status Gunung Semeru pun masih berada pada level III atau siaga. Namun demikian, petugas tetap mengingatkan bahwa potensi ancaman dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan panjang.
PVMBG menegaskan sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai, mulai dari awan panas guguran, guguran lava, hingga banjir lahar dingin, khususnya saat hujan turun di kawasan puncak. Oleh karena itu, disiplin masyarakat dalam mematuhi zona larangan menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko.
Petugas kembali mengingatkan warga agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius aman yang telah ditetapkan, yakni sejauh 17 kilometer dari puncak Gunung Semeru. Selain itu, masyarakat diminta menghindari kawasan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang berpotensi menjadi jalur aliran material vulkanik.
“Masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak,” pungkasnya.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait terus melakukan pemantauan dan sosialisasi kepada warga agar selalu mengikuti perkembangan informasi resmi. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi serta segera melapor kepada petugas apabila terjadi perubahan kondisi di sekitar wilayah lereng Gunung Semeru. []
Diyan Febriana Citra.

