Gunung Semeru Kembali Erupsi, Masyarakat Diimbau Waspada

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Masyarakat Diimbau Waspada

Bagikan:

LUMAJANG – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan pada Sabtu (10/01/2026) pagi. Erupsi yang terjadi disertai lontaran abu vulkanik ini menjadi pengingat bagi masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang bermukim di lereng gunung dan di sepanjang daerah aliran sungai yang berpotensi dilalui lahar.

Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, erupsi tercatat terjadi pada pukul 07.48 WIB. Kolom letusan teramati membumbung hingga sekitar 800 meter di atas puncak kawah, dengan sebaran abu mengarah ke wilayah utara dan timur laut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa suplai material vulkanik masih aktif dan memerlukan pemantauan intensif.

Petugas Pos Pantau Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, menjelaskan karakteristik erupsi yang terekam melalui peralatan pemantauan.

“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan timur laut. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi sekitar 100 detik,” ujar Yadi dalam laporan tertulisnya.

Dalam laporan periodik enam jam terakhir, PVMBG mencatat aktivitas kegempaan Gunung Semeru tergolong tinggi. Sedikitnya terjadi 35 kali gempa letusan dengan amplitudo berkisar antara 11 hingga 23 milimeter dan durasi 62 sampai 143 detik. Selain itu, tercatat pula enam kali gempa guguran dengan amplitudo 2–4 milimeter dan durasi 35–60 detik. Data tersebut mengindikasikan adanya pergerakan material vulkanik di dalam tubuh gunung yang masih cukup aktif.

Meski frekuensi erupsi terbilang intens, hingga kini belum dilaporkan adanya dampak signifikan terhadap permukiman warga. Aktivitas masyarakat di sejumlah desa sekitar Gunung Semeru masih berlangsung normal dengan tetap memperhatikan arahan dari aparat setempat dan petugas kebencanaan. Status Gunung Semeru sendiri masih berada pada Level III atau Siaga, yang berarti potensi bahaya masih ada dan dapat meningkat sewaktu-waktu.

PVMBG menekankan bahwa potensi ancaman tidak hanya berasal dari letusan eksplosif, tetapi juga dari awan panas guguran dan banjir lahar dingin, terutama saat terjadi hujan di kawasan puncak. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk disiplin mematuhi zona aman yang telah ditetapkan.

“Masyarakat diminta tidak beraktivitas di sepanjang daerah aliran sungai lahar dan menjaga jarak minimal 500 meter dari tepi sungai, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas,” kata Yadi.

Selain itu, PVMBG juga mengingatkan warga agar menjauhi area dalam radius 17 kilometer dari puncak kawah. Langkah ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko jika terjadi erupsi susulan dengan skala yang lebih besar. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus berkoordinasi untuk memastikan kesiapan jalur evakuasi dan penyebaran informasi kepada masyarakat berjalan optimal.

Dengan kondisi Gunung Semeru yang masih berstatus siaga, kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti perkembangan resmi dari PVMBG serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews