Kementerian PU Siapkan Jembatan Permanen di Jalur Malalak

Kementerian PU Siapkan Jembatan Permanen di Jalur Malalak

Bagikan:

AGAM – Upaya pemulihan akses transportasi di jalur Malalak menuju Kota Bukittinggi terus dikebut pemerintah pusat pascabencana alam yang melanda wilayah Sumatera Barat pada akhir November 2025. Selain membangun jembatan sementara untuk memastikan konektivitas tetap berjalan, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) kini mulai menyiapkan desain jembatan permanen sebagai solusi jangka panjang di kawasan rawan bencana tersebut.

Menteri PU Dodi Hanggodo mengatakan, pembangunan jembatan permanen tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa tanpa perencanaan matang. Oleh karena itu, sembari menyelesaikan pemasangan jembatan sementara jenis armco dan bailey, kementeriannya juga memproses rancangan teknis jembatan permanen yang akan dibangun di jalur strategis Malalak–Bukittinggi.

“Oh iya, di samping pembangunan jembatan sementara (armco dan bailey) kita menyiapkan desain pembangunan jembatan permanen juga,” kata Menteri PU Dodi Hanggodo di Kabupaten Agam, Rabu (28/01/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Dodi saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak bersama Gubernur Sumatera Barat, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, serta Bupati Agam. Kunjungan lapangan ini dilakukan untuk memastikan percepatan pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana alam, sekaligus mengevaluasi langkah mitigasi ke depan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Menurut Dodi, tantangan utama dalam pembangunan jembatan permanen di jalur Malalak terletak pada kondisi geografis yang ekstrem. Jalur tersebut berada di kawasan perbukitan dengan kontur curam dan jurang di sejumlah titik. Selain itu, sebagian trase jalan dan jembatan berada di wilayah hutan lindung dan kawasan konservasi, sehingga memerlukan koordinasi lintas kementerian serta perizinan khusus sebelum konstruksi permanen dapat dimulai.

Tidak hanya fokus pada jembatan, Kementerian PU juga tengah mengkaji opsi pembangunan sabo dam sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir bandang. Infrastruktur ini dirancang untuk menahan material dan laju air dari kawasan pegunungan yang mengalir ke kilometer 74, lokasi yang sempat terputus akibat banjir bandang pada 26 November 2025.

Dodi menegaskan bahwa kajian sabo dam menjadi aspek penting dalam strategi mitigasi bencana di wilayah tersebut. Dengan meningkatnya curah hujan di daerah hulu, risiko banjir bandang dinilai masih cukup tinggi jika tidak diantisipasi secara komprehensif.

Ia menambahkan, Kementerian PU juga mempertimbangkan kemungkinan desain sabo dam yang multifungsi. Selain berfungsi sebagai pengendali aliran air dan sedimen, tidak menutup kemungkinan sabo dam tersebut dapat dirancang sekaligus sebagai jalur penghubung atau jembatan, tergantung hasil kajian teknis dan efisiensi pembangunan di lapangan.

Sementara itu, dukungan anggaran dari pemerintah pusat juga telah disiapkan untuk memastikan pemulihan infrastruktur berjalan optimal. Anggota DPR RI asal Sumatera Barat, Andre Rosiade, menyebutkan bahwa perbaikan Jalan Malalak menjadi salah satu prioritas nasional dalam dua tahun anggaran mendatang.

“Total Rp667 miliar yang disiapkan untuk pengerjaan Jalan Malalak tahun anggaran 2026 dan 2027,” kata Andre.

Anggaran tersebut akan dialokasikan untuk pemulihan jalan, pembangunan jembatan, serta peningkatan kualitas infrastruktur guna menjamin keselamatan pengguna jalan. Pemerintah berharap, dengan kombinasi pembangunan darurat, perencanaan permanen, dan langkah mitigasi bencana, jalur Malalak–Bukittinggi dapat kembali berfungsi optimal sebagai penghubung utama antarwilayah di Sumatera Barat. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews