SOLO – Suasana haru kembali menyelimuti Keraton Kasunanan Surakarta ketika keluarga besar dan para abdi dalem berkumpul di Sasana Handrawina untuk memperingati 40 hari wafatnya Pakubuwono (PB) XIII. Peringatan yang digelar pada Rabu (10/12/2025) itu dimulai sekitar pukul 11.30 WIB dan berlangsung sederhana namun penuh penghormatan, sesuai tradisi keraton yang telah diwariskan turun-temurun.
Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan surah Yasin dan tahlil oleh para abdi dalem dan sentana dalem. Mereka hadir dari berbagai penjuru Solo dan sekitarnya untuk memberikan doa bagi almarhum PB XIII, yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai sosok pemimpin yang dekat dengan para pengabdi keraton.
Adik mendiang PB XIII, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menjelaskan bahwa persiapan peringatan ini telah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya.
“Sebagian abdi dalem, sentana saja yang nderek (ikut) 40 hari dari surutnya dalem PB XIII. Jadi kami dari bebadan tetap mengadakan (peringatan 40 hari),” ujar Gusti Moeng di Keraton Surakarta.
Ia menambahkan bahwa keraton juga telah menggelar khataman Quran tiga hari sebelum acara 40 hari ini sebagai bentuk penghormatan lebih awal terhadap mendiang. Menurutnya, khataman dan tahlil menjadi bagian penting dalam rangkaian wilujengan yang disesuaikan dengan adat istiadat Kasunanan Surakarta.
Keputusan untuk menyelenggarakan acara pada siang hari ternyata memiliki pertimbangan praktis. “Ini kan musim hujan. Kalau sore hujan kan kasihan (abdi dalem). Karena banyak (abdi dalem) yang dari pinggiran kota,” ungkapnya. Banyaknya abdi dalem yang harus menempuh perjalanan jauh membuat panitia memilih waktu yang dianggap paling aman dari hujan deras yang kerap turun pada sore hingga malam hari.
Gusti Moeng juga menjelaskan bahwa meskipun hitungan 40 hari sejak wafatnya PB XIII sebenarnya jatuh pada Kamis (11/12/2025), peringatan itu dimajukan karena alasan adat. Menurut tradisi keraton, acara selamatan orang yang telah tiada sebaiknya tidak dilakukan melewati waktu yang ditentukan.
“Kalau besok kalau lewat dari jam 3 itu berarti sudah lewat. Jadi kita biasa kalau wilujengan-wilujengan, khol itu juga kita majukan. Kalau untuk selamatan orang yang meninggal itu lebih baik maju tapi tidak boleh mundur,” jelasnya.
PB XIII wafat pada Minggu (02/11/2025) pukul 07.29 WIB di Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Sukoharjo. Setelah disemayamkan di Sasana Parasdya Keraton Surakarta, jenazah beliau dimakamkan di Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Yogyakarta, pada 5 November 2025. Kepergian PB XIII meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar keraton dan masyarakat Surakarta yang mengenang kepemimpinannya. []
Diyan Febriana Citra.

