ACEH UTARA — Pemerintah pusat mulai mengakselerasi pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh dan sejumlah daerah lain di Sumatera. Langkah ini ditandai dengan kunjungan langsung Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ke sentra persawahan yang rusak akibat banjir dan longsor, guna memastikan proses rehabilitasi lahan berjalan efektif dan memberi dampak langsung bagi petani.
Mentan bersama rombongan tiba di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Kamis (15/01/2026) sekitar pukul 08.30 WIB. Di lokasi tersebut, Mentan meninjau kondisi persawahan yang masih tertutup lumpur dan sisa material banjir. Sejumlah petani setempat turut menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan mendesak agar lahan mereka segera dapat diolah kembali.
Dalam dialog di lapangan, Mentan menekankan pentingnya percepatan pemulihan agar aktivitas tanam tidak tertunda terlalu lama. Menurutnya, sektor pertanian harus segera bangkit pasca-bencana demi menjaga ketahanan pangan nasional dan pendapatan petani.
“Jadi seluruh tim terima kasih, kami minta seluruh swakelola, kalau perlu petaninya ikut kerjakan sendiri. Dan itu dibayar pemerintah,” kata Mentan saat berdialog dengan jajarannya dalam peninjauan tersebut.
Mentan menjelaskan, pendekatan swakelola dan padat karya dipilih agar pemulihan lahan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat setempat. Dengan melibatkan petani sebagai pelaku utama rehabilitasi, pemerintah berharap roda ekonomi desa dapat bergerak kembali lebih cepat.
“Jadi swakelola, jadi padat karya. Jadi ini nggak kemana-mana, nggak usah pakai kontraktor besar, apalagi kecil-kecil begini,” ucap Amran.
Selain perbaikan fisik lahan, pemerintah juga menyiapkan bantuan sarana produksi pertanian berupa benih dan pupuk untuk mendukung percepatan musim tanam berikutnya. Bantuan tersebut diharapkan dapat meminimalkan potensi gagal panen lanjutan akibat keterlambatan tanam.
“Dan benih benihnya, pupuknya Alhamdulillah dibantu pemerintah,” tambahnya.
Kunjungan Mentan tersebut turut didampingi Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, sejumlah anggota Komisi IV DPR RI, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, serta pejabat terkait lainnya. Kehadiran legislatif dan BUMN pangan ini menunjukkan dukungan lintas sektor dalam pemulihan pertanian pasca-bencana.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas sawah terdampak bencana di Aceh mencapai 54.233 hektare yang tersebar di 21 kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, kerusakan ringan tercatat 23.893 hektare, rusak sedang 8.759 hektare, dan rusak berat 21.851 hektare. Tahap awal rehabilitasi difokuskan pada 13.707 hektare yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Secara keseluruhan, bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi di Sumatera telah berdampak pada 107.324 hektare sawah, dengan tanaman padi dan jagung yang mengalami puso atau gagal panen mencapai 44,6 ribu hektare. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada sektor perkebunan, hortikultura, peternakan, serta infrastruktur pertanian.
Untuk mendukung pemulihan, Kementerian Pertanian telah menyiapkan anggaran Rp1,49 triliun dari APBN 2026 dan mengusulkan tambahan Rp5,1 triliun guna mempercepat rehabilitasi pertanian di wilayah terdampak.
“Tentu data dampak bencana ini bersifat dinamis dan terus kami perbarui setiap hari melalui koordinasi intensif antara unit Eselon I Kementerian Pertanian dan dinas pertanian di daerah terdampak,” kata Mentan. []
Diyan Febriana Citra.

