BOYOLALI – Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Jumat pagi (02/01/2026). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat terjadinya awan panas guguran yang meluncur dari puncak gunung api tersebut.
Fenomena alam ini teramati pada pukul 07.39 WIB dan terekam jelas melalui peralatan pemantauan visual dan seismik milik BPPTKG. Awan panas guguran tersebut bergerak ke sektor barat daya, mengikuti alur Hulu Kali Krasak, yang selama ini menjadi salah satu jalur potensi bahaya aktivitas Merapi.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menjelaskan karakteristik peristiwa tersebut berdasarkan hasil analisis teknis. “Estimasi jarak luncur 1.500 meter dengan amplitudo maksimum 19,33 mm dan durasi 136 detik mengarah ke barat daya, Hulu Kali Krasak. Arah angin ke timur,” kata Agus Budi Santoso dalam keterangan resminya.
Selain kejadian awan panas guguran pagi ini, aktivitas Merapi dalam 24 jam sebelumnya juga menunjukkan dinamika yang cukup intens. Berdasarkan laporan pengamatan periode Kamis (01/01/2026) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, petugas BPPTKG mencatat setidaknya lima kali guguran lava pijar dari kubah lava Merapi.
Guguran lava tersebut terpantau meluncur ke arah barat daya melalui alur Kali Sat/Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter. Kondisi ini menandakan bahwa suplai material lava dari kubah puncak masih berlangsung secara berkelanjutan.
Meski aktivitas vulkanik terus terjadi, BPPTKG menegaskan bahwa status Gunung Merapi hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini mencerminkan kondisi gunung yang aktif dan berpotensi menimbulkan bahaya, sehingga masyarakat diminta untuk tidak lengah.
BPPTKG kembali mengingatkan potensi ancaman yang dapat muncul, khususnya di sektor selatan hingga barat daya. Ancaman berupa guguran lava dan awan panas berpotensi terjadi di sepanjang Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer dari puncak. Selain itu, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga sejauh 7 kilometer.
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi wilayah Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer serta Sungai Gendol hingga 5 kilometer dari puncak. Jalur-jalur ini telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana yang harus dihindari oleh masyarakat.
BPPTKG juga mengingatkan bahwa apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik seperti batu pijar dan abu dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak kawah. Oleh karena itu, warga yang bermukim di sekitar lereng Merapi diimbau untuk mematuhi rekomendasi jarak aman serta tidak melakukan aktivitas di zona berbahaya.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait terus berkoordinasi dengan BPPTKG untuk memastikan kesiapsiagaan dan keselamatan masyarakat. Informasi resmi terkait aktivitas Gunung Merapi akan terus diperbarui secara berkala agar masyarakat mendapatkan data yang akurat dan dapat mengambil langkah antisipatif yang tepat. []
Diyan Febriana Citra.

