SLEMAN — Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menjadi perhatian serius setelah teramati peningkatan guguran lava pijar dalam beberapa jam terakhir. Berdasarkan laporan pemantauan pada Selasa (17/02/2026) dini hari hingga pagi, gunung api aktif yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut mencatat aktivitas guguran yang relatif intens.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa dalam periode pengamatan pukul 00.00–06.00 WIB, tercatat sebanyak 13 kali guguran lava pijar yang meluncur dari puncak Merapi. Guguran tersebut memiliki jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter atau sekitar 1,8 kilometer ke arah barat daya.
“Teramati 13 kali guguran lava ke arah Barat Daya (Kali Sat/Putih dan Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter,” ujar Agus dalam keterangan resminya, Selasa pagi.
Menurut BPPTKG, arah guguran lava masih terkonsentrasi pada sektor yang selama ini menjadi jalur aliran material vulkanik, yakni hulu sungai-sungai utama di lereng selatan dan barat daya Merapi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa suplai magma ke permukaan masih berlangsung dan berpotensi memicu aktivitas lanjutan.
Tak hanya aktivitas visual, data kegempaan juga memperlihatkan dinamika internal gunung yang cukup signifikan. Selama periode pengamatan yang sama, BPPTKG mencatat 22 gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 11 milimeter dan durasi maksimal mencapai 146,84 detik. Selain itu, terdeteksi pula 20 gempa hybrid atau fase banyak, dua gempa vulkanik dangkal, serta dua gempa tektonik jauh.
Secara visual, puncak Merapi masih dapat teramati dengan jelas meskipun sesekali tertutup kabut tipis. Suhu udara di sekitar puncak tercatat berada pada kisaran 19,9 hingga 20,3 derajat celsius, dengan tingkat kelembapan yang relatif tinggi, mencapai 95 persen. Kondisi cuaca tersebut dinilai dapat memengaruhi stabilitas material vulkanik di kubah lava.
Hingga kini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. BPPTKG mengingatkan bahwa potensi bahaya belum sepenuhnya mereda, terutama terkait kemungkinan terjadinya awan panas guguran akibat runtuhan material lava yang masih terus disuplai dari dalam perut gunung.
Sebagai langkah mitigasi, BPPTKG kembali menegaskan rekomendasi zona bahaya yang tidak boleh dimasuki masyarakat. Di sektor selatan hingga barat daya, aktivitas warga dilarang di sepanjang alur Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer dari puncak. Sementara itu, di sektor tenggara, potensi bahaya mengancam alur Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga radius 5 kilometer.
Masyarakat yang bermukim di sekitar lereng Merapi juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar dingin, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan puncak. Selain itu, warga diharapkan menyiapkan langkah antisipasi terhadap kemungkinan gangguan abu vulkanik yang dapat berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
BPPTKG meminta masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan resmi, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Pemantauan Gunung Merapi akan terus dilakukan secara intensif, dan perkembangan aktivitas vulkanik akan disampaikan secara berkala kepada publik. []
Diyan Febriana Citra.

