TEMANGGUNG – Kebakaran yang melanda sebuah industri rumahan pengolahan kayu di Desa Kebumen, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menjadi pengingat serius akan pentingnya kesiapsiagaan sistem penanggulangan kebakaran, terutama di kawasan padat penduduk. Insiden yang terjadi pada Minggu (11/01/2026) malam itu tidak menimbulkan korban jiwa, namun meninggalkan kerugian materiel besar yang diperkirakan mencapai Rp 350 juta.
Bangunan produksi milik Tono (38) nyaris rata dengan tanah setelah dilalap si jago merah. Api dengan cepat membesar karena sebagian besar material yang tersimpan berupa kayu kering, yang dikenal sangat mudah terbakar. Kondisi tersebut diperparah oleh tiupan angin kencang yang membuat kobaran api merambat ke seluruh area produksi dalam waktu singkat.
Warga sekitar sempat diliputi kepanikan karena lokasi usaha berada di lingkungan permukiman yang cukup padat. Sejumlah warga bergotong royong membantu mengamankan barang-barang di rumah sekitar, khawatir api menjalar ke bangunan lain. Beruntung, petugas pemadam kebakaran berhasil melokalisasi api sebelum merembet ke rumah warga.
Kepala Seksi Pemadaman, Penyelamatan, dan Evakuasi Damkar Temanggung, Edi Irwanto, menjelaskan bahwa laporan kebakaran diterima pada pukul 21.49 WIB.
“Api pertama kali terlihat di area belakang saat aktivitas produksi sedang libur. Dugaan sementara akibat korsleting listrik,” ujar Edi, Senin (12/01/2026) dini hari.
Namun, proses penanganan kebakaran tidak berjalan mudah. Pos Damkar Pringsurat yang seharusnya menjadi unit terdekat tidak dapat segera merespons karena armada yang tersedia dalam kondisi rusak. Akibatnya, bantuan harus didatangkan dari Mako Induk Damkar Temanggung serta Pos Candiroto yang jaraknya relatif lebih jauh dari lokasi kejadian.
Keterbatasan ini berdampak pada waktu tanggap petugas. Jika standar respons ideal ditetapkan maksimal 15 menit, petugas baru tiba di lokasi sekitar 25 menit setelah laporan diterima. Selain jarak, akses jalan desa yang sempit turut memperlambat laju kendaraan pemadam menuju titik kebakaran.
Sebanyak empat unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api. Setelah perjuangan selama kurang lebih dua jam, petugas akhirnya berhasil mengendalikan situasi sepenuhnya pada Senin (12/01/2026) dini hari pukul 00.35 WIB. Meski sebagian besar bangunan dan bahan baku hangus terbakar, petugas menyebut masih ada aset yang berhasil diselamatkan. Nilainya diperkirakan mencapai Rp 500 juta.
Dari sisi ekonomi, kebakaran ini menjadi pukulan berat bagi pemilik usaha. Industri rumahan tersebut merupakan sumber penghidupan utama keluarga sekaligus menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar. Kerugian tidak hanya berupa bangunan dan peralatan, tetapi juga terhentinya aktivitas produksi untuk sementara waktu.
Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab pasti gangguan pada instalasi listrik yang diduga menjadi pemicu kebakaran. Sementara itu, pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan evaluasi terhadap kesiapan armada pemadam kebakaran, khususnya di wilayah rawan kebakaran dan kawasan industri kecil, agar kejadian serupa dapat ditangani lebih cepat di masa mendatang. []
Diyan Febriana Citra.

