LABUAN BAJO – Suasana duka dan solidaritas menyelimuti kawasan Waterfront Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat (02/01/2026) malam. Umat Katolik bersama keluarga korban kapal wisata yang tenggelam di perairan Pulau Padar menggelar doa bersama dan menyalakan 1.000 lilin sebagai wujud empati dan penguatan batin bagi mereka yang ditinggalkan. Kegiatan tersebut menjadi ruang penghiburan di tengah ketidakpastian pencarian korban yang hingga kini belum seluruhnya ditemukan.
Di antara ratusan umat yang hadir, tampak Andrea Ortuño, istri pelatih tim putri cadangan Valencia CF asal Spanyol, Fernando Martín Carreras. Andrea hadir bersama keluarga untuk mengikuti rangkaian doa yang diawali dengan doa Rosario, dilanjutkan lantunan lagu-lagu rohani yang memohon penguatan dan pengharapan melalui perantaraan Bunda Maria.
Momen paling mengharukan terjadi saat lilin-lilin mulai dinyalakan. Di tengah cahaya yang perlahan menerangi malam, Andrea Ortuño tak kuasa menahan tangis. Ia menangis sesenggukan sambil duduk di tengah umat, dengan tangan bersujud dan kepala tertunduk. Air mata yang jatuh mencerminkan duka mendalam atas kehilangan yang masih belum terjawab kepastiannya.
Umat Katolik yang hadir menyalakan lilin sambil melantunkan lagu Dalam Untung Malangku. Suasana haru kian terasa ketika para suster, biarawan-biarawati, serta umat lainnya tampak ikut menitikkan air mata, merasakan beban kesedihan yang sama. Doa-doa yang dipanjatkan malam itu bukan hanya untuk keluarga korban, tetapi juga untuk keselamatan para petugas yang masih melakukan pencarian.
Fernando Martín Carreras, pelatih Valencia CF Femenino B, dilaporkan tenggelam bersama tiga anaknya dalam insiden kapal wisata KM Putri Sakinah yang terjadi pada Jumat (26/12/2025). Kapal tersebut dilaporkan tenggelam akibat cuaca buruk saat berlayar di perairan Pulau Padar, kawasan Taman Nasional Komodo. Dalam proses pencarian, satu anak perempuan korban ditemukan meninggal dunia di perairan dekat Pulau Serai. Namun hingga kini, Fernando Carreras dan dua anak laki-lakinya masih belum ditemukan.
Di tengah doa bersama, Andrea Ortuño menyampaikan ungkapan terima kasih kepada umat yang hadir. Dengan tubuh gemetar dan air mata yang terus mengalir, ia membungkukkan badan dengan tangan bersujud.
“Terima kasih, terima kasih,” ucapnya sambil menangis.
Andrea terlihat tidak sanggup berdiri dan harus dipapah oleh anggota keluarga yang mendampinginya. Pemandangan tersebut membuat suasana doa kembali dipenuhi keharuan. Salah seorang umat yang hadir turut menyuarakan perasaannya,
“Tuhan, saya tidak sanggup melihatnya. Sungguh terlalu sedih. Bunda Maria, tolong keluarga ini,” ungkapnya sambil mengusap air mata.
Pastor yang memimpin doa bersama, Romo Hermen Sanusi, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan moral dan spiritual bagi keluarga korban yang tengah menghadapi masa paling sulit dalam hidup mereka.
“Semua yang hadir di sini, baik umat, biarawan-biarawati, maupun para imam, ingin menegaskan bahwa kami sungguh berempati dan ikut berbela rasa atas apa yang sedang mereka alami,” kata Romo Hermen.
Ia menambahkan, doa dan lilin yang dinyalakan juga dipersembahkan bagi tim SAR, KSOP, serta seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pencarian.
“Kami punya harapan bahwa mereka bisa ditemukan. Doa kami semua, terutama melalui perantaraan Bunda Maria, juga menjadi tanda bahwa keluarga korban tidak sendirian. Kami semua hadir bersama mereka dalam doa,” tuturnya.
Doa bersama di Labuan Bajo malam itu menjadi simbol kuat solidaritas kemanusiaan, bahwa duka tidak dipikul sendiri, dan harapan tetap menyala meski di tengah kegelapan. []
Diyan Febriana Citra.

