Tebing 20 Meter Runtuh, Jalan Piket Nol Lumajang Lumpuh Total

Tebing 20 Meter Runtuh, Jalan Piket Nol Lumajang Lumpuh Total

LUMAJANG – Bencana tanah longsor kembali melanda jalur perbukitan Piket Nol, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (30/08/2025). Tebing setinggi kurang lebih 20 meter runtuh dan menutup jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Malang dengan Kabupaten Lumajang. Akibatnya, arus lalu lintas antarwilayah lumpuh total sejak dini hari.

Menurut keterangan warga setempat, Erik, longsor dipicu hujan dengan intensitas sedang yang mengguyur kawasan tersebut sejak malam hingga dini hari.

“Longsor jam 00.30 WIB, memang kondisi tebing sudah kritis dan beberapa kali mengalami longsor,” ujarnya. Erik menambahkan, upaya pencegahan sebenarnya sudah dilakukan dengan memasang jaring penahan tanah, tetapi daya tahan konstruksi itu tidak mampu menahan gempuran material ketika hujan deras.

Beruntung, saat longsor terjadi kondisi jalan sedang sepi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Material longsor berupa tanah, batu, serta lumpur hanya menutup jalur kendaraan tanpa menghantam pemukiman.

Petugas Pusdalops BPBD Lumajang, Dwi Nurcahyo, menyebutkan ada lima titik longsor yang ditemukan sepanjang jalur Piket Nol. “Tiga titik di antaranya yakni kilometer 54.200, 54.700, dan 56.300, longsoran tanah disertai batu dan pohon cukup parah dan menutup seluruh badan jalan,” jelasnya. Ia memastikan longsor di tiga titik tersebut membuat akses dari Malang ke Lumajang maupun sebaliknya tidak dapat dilalui sama sekali.

Tim gabungan dari BPBD Lumajang, TNI, dan Polri segera diterjunkan untuk melakukan pembersihan material. Upaya ini dilakukan secara manual dan menggunakan alat berat agar jalan bisa kembali dibuka. Namun, dengan banyaknya titik longsor, diperkirakan proses normalisasi memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Selain menutup akses transportasi, peristiwa ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi warga sekitar yang setiap hari bergantung pada jalur tersebut. Piket Nol dikenal sebagai jalur vital penghubung ekonomi dan mobilitas masyarakat di Malang selatan hingga Lumajang. Gangguan transportasi kerap membuat aktivitas perdagangan maupun distribusi logistik tersendat.

Kondisi geografis kawasan perbukitan yang curam memang menjadikan Piket Nol rawan bencana longsor. Hujan dengan durasi panjang sering kali memperlemah struktur tanah di lereng tebing. Pemerhati kebencanaan juga menilai perlunya perencanaan infrastruktur yang lebih kuat serta peringatan dini bagi pengguna jalan.

Meski jalur utama sementara terputus, warga berharap pembersihan material dapat segera dituntaskan sehingga aktivitas bisa kembali normal. Masyarakat juga diminta tetap waspada terhadap potensi longsor susulan mengingat musim hujan belum berakhir. []

Diyan Febriana Citra.

Berita Daerah Hotnews