TEHERAN – Sebanyak 14 anggota Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan operasi penjinakan amunisi sisa perang di Provinsi Zanjan, Iran barat laut, Jumat (01/05/2026). Dua personel lainnya juga mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut.
Insiden terjadi ketika tim IRGC berupaya menonaktifkan amunisi yang belum meledak pascaperang 40 hari antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ledakan diduga berasal dari bahan peledak yang masih aktif di lokasi operasi.
Korps Ansar al-Mahdi Zanjan, unit provinsi IRGC, menyebut seluruh korban merupakan personel berpengalaman yang memiliki kemampuan khusus dalam penanganan bahan peledak berbahaya.
Sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (01/05/2026), kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa ledakan mematikan itu dipicu oleh amunisi yang belum teridentifikasi saat proses penjinakan berlangsung.
Dalam keterangannya, Korps Ansar al-Mahdi mengungkapkan tim mereka sebelumnya telah berhasil menemukan dan melumpuhkan lebih dari 15 ribu amunisi berbahaya yang tersisa setelah konflik bersenjata.
Perang antara Iran melawan gabungan AS dan Israel pecah sejak 28 Februari 2026. Saat itu, serangan udara gabungan menghantam Teheran dan sejumlah kota lain di Iran hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran kala itu, Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan senior dan warga sipil.
Iran kemudian membalas melalui serangan rudal dan drone yang diarahkan ke wilayah Israel serta aset-aset milik AS di kawasan Timur Tengah.
Meski gencatan senjata telah disepakati pada 8 April 2026, dampak konflik masih terasa di berbagai wilayah Iran. Keberadaan ribuan amunisi aktif yang belum meledak dinilai masih menjadi ancaman serius bagi personel keamanan maupun masyarakat sipil di area bekas pertempuran. []
Redaksi05

