TENGGARONG — Insiden tenggelamnya kapal feri kembali menjadi pengingat rapuhnya sistem keselamatan transportasi sungai di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kapal Feri Fatimah Dua yang melayani jalur penyeberangan Sebulu–Sirbaya dilaporkan karam pada Selasa (24/02/2026) sore, saat sedang mengangkut sejumlah kendaraan roda empat melintasi Sungai Mahakam.
Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan sempat memicu kepanikan penumpang serta warga yang berada di sekitar dermaga. Meski demikian, insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa karena kapal berhasil diarahkan ke tepi sungai sebelum benar-benar tenggelam.
Berdasarkan pantauan melalui unggahan video di akun TikTok TikTok @aripratama99, kapal feri tersebut diketahui membawa tiga unit mobil. Kendaraan itu terdiri atas satu mobil boks, satu unit Suzuki Carry, serta satu mobil yang mengangkut ayam potong.
Informasi awal menyebutkan, kapal diduga mengalami kebocoran serius pada bagian lambung ketika proses penyeberangan masih berlangsung. Kondisi tersebut membuat awak kapal mengambil keputusan darurat dengan mengarahkan feri ke sisi sungai untuk meminimalkan risiko lebih besar.
“Feri tenggelam saat sudah berada di pinggir. Diduga kondisinya memang sudah bocor parah lalu di kebut ke pinggir agar tenggelam dipinggir saja,” ucap Ari dalam rekaman video yang beredar.
Langkah cepat tersebut dinilai menjadi faktor penting yang mencegah jatuhnya korban jiwa. Saat kapal mulai miring dan air masuk ke badan feri, posisi kapal sudah relatif dekat dengan daratan sehingga memudahkan evakuasi.
Meski tidak menelan korban, insiden ini tetap menyisakan kerugian material. Tiga unit kendaraan yang berada di atas feri ikut terendam air sungai. Salah satu kendaraan bahkan membawa muatan ternak ayam yang belum diketahui jumlah pasti maupun nilai kerugiannya.
“Warga setempat membantu mengevakuasi tiga unit mobil beserta barang bawaan yang ikut tenggelam. Ada mobil pengangkut ayam yang tenggelam, belum dapat dipastikan kerugiannya,” sebut Ari.
Peran warga sekitar penyeberangan menjadi krusial dalam situasi tersebut. Mereka bahu-membahu membantu awak kapal dan pemilik kendaraan untuk menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dievakuasi, sembari memastikan tidak ada penumpang yang tertinggal di dalam kapal.
Insiden tenggelamnya Kapal Feri Fatimah Dua kembali menyoroti kondisi armada penyeberangan sungai yang masih digunakan masyarakat sehari-hari. Jalur Sebulu–Sirbaya sendiri merupakan lintasan vital bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas warga, sehingga aspek kelaikan kapal dan pengawasan rutin menjadi sorotan penting.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait penyebab pasti kebocoran kapal maupun tindak lanjut pemeriksaan terhadap kondisi feri. Warga berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dan pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keselamatan transportasi sungai di wilayah tersebut. []
Diyan Febriana Citra.

