Aksi Mahasiswa di Polres Kukar Soroti Kekerasan Aparat

Aksi Mahasiswa di Polres Kukar Soroti Kekerasan Aparat

Bagikan:

TENGGARONG — Aksi mahasiswa kembali mengemuka sebagai penanda kuatnya kontrol publik terhadap institusi penegak hukum. Puluhan mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) menggelar demonstrasi di Markas Komando Polres Kutai Kartanegara, Selasa (24/02/2026). Aksi tersebut digelar sebagai respons atas dugaan kekerasan yang melibatkan oknum Brimob di Tual, Maluku Tenggara, yang berujung pada meninggalnya seorang pelajar.

Demonstrasi berlangsung pada siang hari di tengah suasana Ramadan, sekitar empat jam sebelum waktu berbuka puasa. Meski dilakukan dalam kondisi berpuasa, mahasiswa tetap menyampaikan aspirasi secara bergantian melalui orasi di halaman Mapolres Kukar. Mereka membawa poster dan spanduk berisi seruan reformasi kepolisian serta tuntutan penegakan hukum yang transparan dan adil.

Mahasiswa menyoroti dugaan kekerasan yang dilakukan Bripda MS terhadap seorang siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri berinisial AT (14). Peristiwa tersebut dinilai menjadi alarm keras bagi publik terkait masih maraknya dugaan penyalahgunaan kewenangan oleh aparat bersenjata. Bagi mahasiswa, tragedi ini tidak hanya menyangkut satu kasus individual, tetapi juga menyentuh persoalan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri secara keseluruhan.

“Mereka yang seharusnya melindungi masyarakat, justru menjadi pelaku kekerasan. Ini mencederai rasa keadilan,” ujar Ketua BEM Unikarta, Zulkarnain, dalam orasinya.

Menurut mahasiswa, agenda reformasi Polri yang telah lama digaungkan belum sepenuhnya terwujud di lapangan. Mereka menilai masih sering munculnya laporan dugaan penganiayaan, pembunuhan, dan tindakan represif terhadap warga sipil menjadi indikator bahwa pembenahan internal belum berjalan maksimal.

“Reformasi Polri jangan hanya menjadi slogan. Ketika masih ada kekerasan terhadap masyarakat sipil, itu artinya pembenahan harus dipercepat. Kami sebagai masyarakat merasa terancam dengan tindakan brutal dan represif aparat,” tegas Zulkarnain.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa berharap dapat berdialog langsung dengan Kapolres Kutai Kartanegara. Namun, ketidakhadiran pimpinan tertinggi kepolisian di tingkat kabupaten itu menimbulkan kekecewaan tersendiri di kalangan massa aksi.

“Seharusnya kami bisa berdialog langsung dengan Kapolres. Namun karena beliau tidak bisa hadir, ini menjadi kekecewaan bagi kami. Kami tegaskan, aksi akan terus berlanjut dengan massa yang lebih besar,” ujarnya.

Pihak kepolisian akhirnya menemui massa melalui Kabag Ops Polres Kukar, Kompol Roganda. Ia menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Kapolres sekaligus memberikan penjelasan terkait penanganan kasus di Tual.

“Kami menyampaikan turut berbelasungkawa atas meninggalnya adik kita di Tual. Perkara tersebut telah ditangani sesuai prosedur, baik secara etik, profesi, maupun pidana. Proses hukumnya sedang berjalan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa kritik yang disampaikan mahasiswa dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap institusi kepolisian.

“Kami berterima kasih atas masukan dari teman-teman mahasiswa. Kritik ini merupakan wujud kecintaan kepada Polri agar kami dapat terus berbenah dan bertindak profesional, proporsional, serta sesuai aturan hukum yang berlaku,” tambahnya.

Aksi unjuk rasa berlangsung dengan pengamanan aparat dan berjalan tertib hingga massa membubarkan diri menjelang waktu berbuka puasa. Meski demikian, mahasiswa menegaskan bahwa aksi ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendorong reformasi kepolisian yang lebih substansial. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews