SEMARANG – Insiden kebakaran yang terjadi di area rooftop belakang Grand Arkenso Park View Hotel, kawasan Simpang Lima, Semarang, pada Minggu (01/03/2026) malam menjadi ujian nyata kesiapsiagaan sistem keselamatan gedung dan respons cepat petugas internal hotel. Api yang sempat membesar diketahui bersumber dari ruang boiler atau pemanas air yang berada di lantai atas bangunan.
Manajemen hotel memastikan kebakaran tersebut tidak berdampak pada keselamatan tamu. General Manager Grand Arkenso Park View Hotel, Setya Teguh Yuwana, menjelaskan bahwa kejadian bermula dari kepekaan seorang pegawai yang saat itu sedang berada di mess lantai 12. Pegawai tersebut mendengar suara tidak biasa sebelum akhirnya menyadari adanya api.
“Beliau lagi istirahat sambil lihat ponsel, dengar suara ‘kletek-kletek’, dipikirnya hujan awalnya. Begitu keluar, ruang boiler itu menyala apinya,” kata Setya dikutip dari Tribun Jateng, Senin (02/03/2026) pagi.
Menyadari potensi bahaya, pegawai tersebut segera bertindak dengan mengambil alat pemadam api ringan (APAR) yang tersedia di lantai 11 dan 12. Upaya pemadaman awal ini kemudian diperkuat oleh staf lain yang menggunakan sistem hidran gedung, sehingga api dapat dikendalikan sebelum merambat ke area lain.
“Api padam pakai hidran, kemudian bisa padam. Sesaat kemudian, damkar datang untuk melakukan pendinginan, karena mereka yang paham titik-titik mana yang masih berpotensi kembali memunculkan bara api,” jelas Setya.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa dari kalangan tamu, insiden ini menyebabkan satu orang pegawai mengalami luka pada bagian tangan saat membantu pemadaman menggunakan hidran. Korban segera mendapatkan penanganan medis dan dipastikan dalam kondisi stabil.
Manajemen hotel juga menjelaskan bahwa prosedur evakuasi berjalan sesuai standar operasional. Seluruh pegawai bergerak cepat mengarahkan tamu keluar melalui jalur tangga darurat, lengkap dengan membawa daftar kamar untuk memastikan tidak ada tamu yang tertinggal di dalam gedung.
“Masing-masing pegawai membawa daftar room list, mereka mengarahkan tamu keluar melalui tangga darurat. Ditangani sendiri oleh petugas. Yang menangani tadi dua security, FO, engineering, kebetulan ada yang ganti shift akhirnya kami tarik untuk diberbantukan,” paparnya.
Faktor lain yang turut membantu kelancaran penanganan adalah kondisi okupansi hotel yang relatif rendah. Setya menyebutkan bahwa saat kejadian berlangsung, hotel tengah berada pada masa low season. Aktivitas tamu hanya terpusat di lantai 6 hingga 9, sementara lantai 10 dan 11 dalam kondisi kosong atau saving room.
Kesaksian warga sekitar juga memperkuat kronologi kejadian. Seorang saksi mata bernama Imron (50) mengaku sempat melihat kobaran api cukup besar di sudut rooftop sebelum akhirnya mereda.
“Saya lihat dari kejauhan menyala besar di pojok. Pemadamnya mobilnya lebih dari dua tadi saya lihat,” ujar Imron.
Hingga Senin (02/03/2026) dini hari, petugas pemadam kebakaran masih melakukan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang berpotensi muncul kembali. Aparat kepolisian, termasuk tim Inafis, turut berada di lokasi guna melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk menyelidiki penyebab pasti kebakaran.
Manajemen hotel menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemanas air dan instalasi pendukung lainnya sebagai langkah pencegahan, sekaligus memastikan standar keselamatan gedung tetap terjaga demi kenyamanan dan keamanan tamu. []
Diyan Febriana Citra.

