LAMPUNG – Terjangan angin puting beliung mengguncang wilayah Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, pada Senin (02/03/2026) sekitar pukul 13.00 WIB. Fenomena cuaca ekstrem yang datang secara tiba-tiba itu meninggalkan kerusakan cukup luas di dua desa, yakni Desa Legundi dan Desa Tri Dharmayoga. Puluhan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan, selain fasilitas umum seperti pasar tradisional dan kantor desa.
Peristiwa terjadi saat cuaca di kawasan pesisir tersebut dalam kondisi mendung pekat. Warga menyebut pusaran angin muncul dari arah pantai dan bergerak cepat menuju permukiman. Dalam waktu singkat, atap-atap rumah beterbangan dan sejumlah bangunan porak-poranda.
Di Desa Tri Dharmayoga, Pasar Tradisional menjadi salah satu titik terdampak paling parah. Rekaman video yang beredar di masyarakat memperlihatkan bagian atap pasar hancur dan rangka bangunan tampak terbuka. Kerusakan serupa juga terjadi pada kantor balai desa setempat, di mana sebagian atap dan plafon dilaporkan rusak berat akibat terjangan angin.
Selain merusak bangunan, angin kencang juga menumbangkan sejumlah pohon besar. Beberapa pohon yang roboh menimpa rumah warga sehingga memperparah tingkat kerusakan. Material bangunan seperti seng dan kayu berserakan di jalan desa, menghambat aktivitas masyarakat pascakejadian.
Salah seorang warga Ketapang menggambarkan detik-detik kemunculan angin puting beliung tersebut. “Kejadiannya cukup singkat. Tadi awan hitam legam, dari arah pantai tiba-tiba muncul pusaran angin yang berputar kencang ke atas,” ungkap warga di lokasi kejadian.
Kesaksian itu mempertegas bahwa bencana berlangsung dalam durasi yang relatif singkat, namun berdampak signifikan. Banyak warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka karena pusaran angin datang tanpa peringatan yang jelas.
Hingga berita ini disusun, aparat desa bersama instansi terkait masih melakukan pendataan terhadap jumlah rumah dan fasilitas umum yang terdampak. Data sementara menunjukkan puluhan bangunan mengalami kerusakan dengan kategori sedang hingga berat. Adapun mengenai korban jiwa, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang. Meski demikian, warga menyampaikan bahwa sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap rumah yang terbawa angin.
Pascakejadian, masyarakat secara gotong royong membersihkan puing-puing bangunan dan mengevakuasi pohon tumbang. Beberapa warga juga terlihat memperbaiki atap rumah secara darurat menggunakan terpal untuk mencegah kerusakan lebih lanjut apabila hujan kembali turun.
Pemerintah setempat mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem susulan. Wilayah pesisir dinilai rawan terhadap perubahan cuaca yang cepat, terutama saat memasuki masa peralihan musim. Warga diminta segera mencari tempat aman apabila melihat tanda-tanda kemunculan angin kencang atau awan gelap yang bergerak cepat.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Selain penanganan darurat, masyarakat berharap adanya bantuan perbaikan rumah dan fasilitas umum agar aktivitas ekonomi, khususnya di pasar tradisional, dapat segera kembali normal. []
Diyan Febriana Citra.

