MOSKOW — Ketegangan energi antara Rusia dan Uni Eropa kembali memanas. Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah memerintahkan pemerintahannya untuk menyusun kajian mengenai kemungkinan penarikan Rusia dari pasar gas Eropa. Meski demikian, pihak Kremlin menegaskan bahwa langkah tersebut belum merupakan keputusan final, melainkan masih dalam tahap kajian sebagai respons terhadap kebijakan energi Uni Eropa.
Informasi tersebut disampaikan oleh juru bicara Kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, yang menjelaskan bahwa arahan Putin yang disampaikan sebelumnya merupakan instruksi teknis kepada pemerintah untuk melakukan analisis terhadap berbagai skenario yang mungkin terjadi.
Dilansir dari RIA Novosti, Peskov menekankan bahwa arahan tersebut bukan merupakan keputusan politik untuk segera menghentikan pasokan gas ke Eropa.
“Presiden kemarin secara khusus menekankan bahwa ini bukan keputusan, melainkan usulan, lebih tepatnya instruksi kepada pemerintah untuk mengkaji masalah ini,” ujar Peskov, Kamis (05/03/2026).
Menurut Peskov, langkah tersebut muncul sebagai respons terhadap rencana Uni Eropa yang berupaya memperketat sanksi energi terhadap Rusia. Blok Eropa disebut tengah menyiapkan kebijakan yang dapat membatasi pembelian gas Rusia, termasuk gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Uni Eropa bahkan telah menetapkan rencana jangka panjang untuk menghentikan sepenuhnya impor gas Rusia pada tahun 2027. Dalam kebijakan tersebut, sejumlah kontrak yang masih berjalan akan diberikan masa transisi hingga awal tahun 2028 sebelum penghentian total diberlakukan.
Peskov juga menyoroti kebijakan energi Uni Eropa yang dinilai memiliki kontradiksi di tengah tekanan harga energi yang masih dirasakan kawasan tersebut. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menambah ketidakpastian dalam hubungan energi antara Rusia dan negara-negara Eropa.
“Uni Eropa bahkan tengah mempertimbangkan perpanjangan embargo terhadap LNG asal Rusia, meski kawasan tersebut masih menghadapi tekanan harga energi,” jelasnya.
Selain itu, Moskow juga menilai proyek pipa gas strategis Nord Stream masih menghadapi berbagai hambatan yang dipengaruhi faktor politik dan keamanan. Hingga saat ini, Rusia melihat belum ada tanda-tanda perubahan sikap dari pihak Eropa terkait masa depan proyek tersebut.
Meski demikian, Rusia tidak menutup kemungkinan untuk mengalihkan fokus ekspor energinya ke pasar lain di luar Eropa. Kremlin disebut sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk memperluas kerja sama energi dengan kawasan lain, termasuk Asia dan negara-negara berkembang.
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang Rusia dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, khususnya terkait sektor energi yang menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara.
Dengan melakukan kajian terhadap kemungkinan penarikan dari pasar Eropa, Rusia dinilai sedang mempersiapkan landasan kebijakan energi baru di tengah meningkatnya tekanan geopolitik dan perubahan arah kebijakan energi global. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Agnes Wiguna

