PADANG – Kecelakaan tragis terjadi di jalur rel kereta api di kawasan Jalan Prof. Dr. Hamka, Kelurahan Parupuk Tabing, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (07/03/2026) malam. Tiga remaja tertabrak Kereta Api (KA) B56A Lembah Anai relasi Padang–Kayu Tanam di kilometer 15+400. Insiden yang berlangsung sekitar pukul 19.00 WIB tersebut menyebabkan dua remaja meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka serius.
Peristiwa nahas itu terjadi sesaat setelah waktu berbuka puasa. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, para korban merupakan bagian dari rombongan remaja yang datang ke Kota Padang untuk mengikuti turnamen futsal.
Salah seorang rekan korban, Gio, menceritakan bahwa mereka berangkat dari Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, pada sore hari menggunakan sepeda motor. Total terdapat delapan orang dalam rombongan tersebut.
“Rencananya kami mau ikut turnamen futsal di Tabing. Kami berangkat sekitar pukul 17.00 WIB, total delapan orang,” ujar Gio, Minggu (08/03/2026).
Dalam perjalanan menuju lokasi turnamen, rombongan sempat berhenti untuk menunaikan salat Magrib di kawasan Jembatan Layang Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan rencana mencari tempat makan sebelum pertandingan yang dijadwalkan berlangsung pukul 22.00 WIB.
Sesampainya di kawasan Tabing, rombongan kemudian berpencar untuk menyelesaikan beberapa keperluan. Gio bersama satu rekannya pergi mengantarkan spanduk panitia turnamen, sementara seorang rekan lainnya bernama Ali menuju SPBU untuk mengisi bahan bakar sepeda motor.
Sementara itu, lima remaja lainnya memilih menunggu di sekitar perlintasan rel kereta api yang berada di depan Sekolah Luar Biasa (SLB) Karya Padang.
Kapolsek Koto Tangah, Kompol Afrino, menjelaskan bahwa kecelakaan bermula saat para remaja tersebut duduk-duduk di atas rel kereta api sambil menunggu teman mereka kembali.
“Mereka tidak sadar kereta api dari Padang menuju Pariaman melintas dan langsung menabrak mereka,” ujar Afrino.
Keterangan tersebut juga diperkuat oleh Ilham, salah satu rekan korban yang berada di lokasi saat kejadian. Ia menyebutkan bahwa sebagian dari mereka sempat duduk di atas rel karena mengira tidak ada kereta yang melintas pada malam hari.
Situasi berubah cepat ketika kereta api tiba-tiba datang dari arah Padang.
“Tiba-tiba kereta datang. Saya melihat mereka terlempar setelah tertabrak,” kata Ilham.
Sebelum kejadian, Ilham bersama seorang rekannya bernama Fauzan sempat memindahkan sepeda motor mereka dari dekat rel ke tepi jalan. Namun, beberapa rekan mereka masih berada di jalur rel ketika kereta melintas sehingga tabrakan tidak dapat dihindari.
Pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre II Sumatera Barat menyatakan bahwa masinis sebenarnya telah memberikan peringatan sebelum kereta mencapai lokasi kejadian.
Kepala Humas PT KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab, mengatakan bahwa masinis telah membunyikan semboyan 35 atau klakson peringatan secara berulang-ulang. Namun, para korban tidak segera menjauh dari rel sehingga kecelakaan tidak dapat dicegah.
Berdasarkan pendataan pihak kepolisian dan keterangan saksi, ketiga korban diketahui merupakan pelajar SMA Negeri 1 Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman.
Dua korban yang meninggal dunia masing-masing bernama Wahyu Rizki Anugerah (18) dan David Ricardo (18). Sementara satu korban lainnya, Fazla (17), mengalami luka serius dan saat ini masih menjalani perawatan medis serta tindakan operasi di RS Hermina Padang.
PT KAI juga kembali mengingatkan masyarakat bahwa area rel kereta api merupakan Ruang Manfaat Jalur Kereta Api (Rumaja) yang tidak boleh digunakan untuk aktivitas apa pun oleh masyarakat umum. Aturan tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.
Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara maksimal tiga bulan atau denda hingga Rp15 juta.
“Kami menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa ini. Kami kembali mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sepanjang jalur kereta api demi keselamatan bersama,” tutup Reza.
Sementara itu, jenazah kedua korban telah dipulangkan ke kampung halaman di Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, untuk dimakamkan oleh pihak keluarga. []
Diyan Febriana Citra.

