Sepuluh Anak di Tasikmalaya Kedapatan Curi Sandal Crocs Warga

Sepuluh Anak di Tasikmalaya Kedapatan Curi Sandal Crocs Warga

Bagikan:

TASIKMALAYA – Kasus pencurian sandal yang melibatkan anak-anak terjadi di Kompleks Perumahan Pondok Kharisma Residence (PKR), Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Sedikitnya 10 anak di bawah umur diketahui terlibat dalam aksi mengambil sandal bermerek Crocs milik sejumlah warga di lingkungan perumahan tersebut. Peristiwa ini diduga dipicu keinginan para pelaku untuk mengikuti tren fesyen yang sedang populer di media sosial menjelang perayaan Lebaran.

Perkara tersebut mulai terungkap setelah salah seorang warga menemukan rekaman kamera pengawas (CCTV) yang menunjukkan aktivitas mencurigakan di halaman rumahnya. Rekaman tersebut kemudian dibagikan kepada warga lain melalui grup komunikasi lingkungan, sehingga memunculkan pengakuan dari beberapa korban lain yang mengalami kejadian serupa.

Ketua RW di Kompleks PKR, Rambat Eko, menjelaskan bahwa setelah rekaman CCTV beredar, sejumlah warga mulai melaporkan kehilangan sandal yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Sampai akhirnya ternyata warga yang jadi korban yang sama pun berani mengungkapkan kejadian ini semuanya, tercatat ada belasan orang jadi korban,” ujar Eko kepada Kompas.com di rumahnya, Senin (09/03/2026).

Menurut Eko, kejadian pertama kali diketahui pada Jumat (06/03/2026). Saat itu seorang warga melaporkan kehilangan dua pasang sandal Crocs yang sebelumnya diletakkan di halaman rumahnya. Awalnya, warga mengira kejadian tersebut merupakan kasus kehilangan biasa. Namun setelah rekaman CCTV diperiksa dan disebarluaskan, warga lain mulai menyadari bahwa peristiwa serupa juga mereka alami.

Menyikapi hal tersebut, pengurus lingkungan kemudian berinisiatif melakukan penelusuran serta memanggil para orang tua anak yang diduga terlibat. Bukti rekaman CCTV diperlihatkan kepada para orang tua sebagai dasar klarifikasi.

Setelah proses tersebut dilakukan, para pelaku akhirnya mengakui perbuatannya. Sebagian sandal yang telah diambil pun diserahkan kembali kepada warga.

“Karena pelakunya masih anak-anak kita selesaikan dengan cara kekeluargaan dengan membuat surat pernyataan resmi supaya kejadian tidak terulang lagi,” tambah Eko.

Koordinator keamanan perumahan PKR, Dian, menjelaskan bahwa petugas keamanan segera melakukan penelusuran setelah melihat rekaman kamera pengawas. Penyelidikan dilakukan dengan menelusuri lokasi yang diduga berkaitan dengan para pelaku.

Dari hasil penelusuran tersebut, petugas menemukan sandal-sandal yang diduga hasil pencurian di tiga tempat berbeda. Pelaku pertama diketahui merupakan seorang anak yang tinggal di luar kompleks perumahan. Dari rumah anak tersebut ditemukan enam pasang sandal.

Penelusuran kemudian berlanjut ke seorang anak yang tinggal di sebuah panti yang berada di area perumahan tersebut. Dari lokasi itu ditemukan empat pasang sandal yang juga diduga merupakan hasil pencurian.

Sementara dua pasang sandal lainnya ditemukan di sebuah warung yang berada di sekitar kawasan tersebut.

“Total ada 12 pasang sandal yang kami amankan dari tiga tempat berbeda. Ternyata, semua pelakunya masih anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD),” ujar Dian.

Salah seorang warga yang menjadi korban, Sulasingkin, turut menceritakan pengalaman kehilangan sandal milik anaknya. Ia mengaku sempat melihat jejak kaki yang masuk ke dalam rumah pada siang hari, namun saat itu tidak menyadari bahwa sandal milik anaknya telah hilang.

“Saat itu jam 2 siang, ada bekas kaki. Saya pikir tidak ada yang hilang karena posisi sandal terlihat masih sama. Baru sadar setelah anak pulang sekolah menanyakan sandalnya, ternyata sudah dicuri,” ungkapnya.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan para pelaku kepada pengurus lingkungan, sandal yang mereka ambil rencananya akan digunakan sendiri atau dijual. Tujuannya agar mereka dapat mengikuti tren fesyen yang tengah ramai di media sosial menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Sebelum kejadian ini terungkap, sebagian anak sempat memberikan alasan kepada orang tua mereka bahwa sandal yang dibawa pulang merupakan pemberian warga perumahan untuk Lebaran. Namun setelah bukti rekaman CCTV diperlihatkan, para orang tua akhirnya menyadari tindakan anak-anak mereka.

Para orang tua pun menyampaikan permintaan maaf kepada warga yang menjadi korban. Melalui kesepakatan bersama, kasus tersebut akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan dengan harapan kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Kasus