KENDARI – Gempa bumi tektonik bermagnitudo 2,1 mengguncang wilayah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Rabu pagi (01/04/2026) pukul 08.10 Wita. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas sesar aktif dan hingga kini belum menimbulkan laporan kerusakan.
Berdasarkan data BMKG, pusat gempa berada pada koordinat 4,06 lintang selatan (LS) dan 122,46 bujur timur (BT), tepatnya di darat sekitar 9 kilometer barat daya Kendari dengan kedalaman 5 kilometer. Guncangan dirasakan hingga wilayah Ranometo, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV, Nasrol Adil, menjelaskan karakteristik gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang bersumber dari pergerakan sesar aktif.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” ujarnya, sebagaimana dilansir BMKG, Rabu, (01/04/2026).
Menurut estimasi peta guncangan (shakemap) dan laporan masyarakat, intensitas gempa berada pada skala II-III Modified Mercalli Intensity (MMI) di Ranometo, Konsel. Pada skala tersebut, getaran umumnya dirasakan beberapa orang di dalam rumah dan dapat menggerakkan benda ringan yang tergantung.
“Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu,” jelasnya.
Hingga pukul 08.35 Wita, BMKG belum menerima laporan adanya kerusakan bangunan maupun dampak lain yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Pemantauan lanjutan juga belum menunjukkan adanya gempa susulan atau aftershock.
“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi, serta terus memantau perkembangan resmi dari kanal informasi kebencanaan. “Hingga pukul 08.35 Wita, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya kejadian gempa bumi susulan (aftershock),” tutupnya. []
Redaksi05

