WASHINGTON D.C. – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Teheran agar segera membuka kembali Selat Hormuz. Jika jalur pelayaran strategis itu tetap ditutup hingga batas waktu yang ditetapkan pada Senin (06/04/2026), Trump mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, pada hari berikutnya.
Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial pada Minggu malam waktu setempat. Dalam pernyataannya, ia menegaskan serangan akan diarahkan pada fasilitas sipil yang dinilai strategis apabila Iran tidak membuka kembali akses Selat Hormuz, jalur utama distribusi energi dunia yang selama beberapa pekan terakhir lumpuh akibat konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran.
“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat s** itu, dasar b* g**, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah,” kata Trump, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Senin, (06/04/2026).
Ultimatum ini merupakan lanjutan dari tenggat 10 hari yang sebelumnya diberikan Washington pada 26 Maret 2026. Pemerintah AS menuntut Iran segera membuka Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia, yang selama ini menjadi urat nadi pasar energi global.
Menanggapi ancaman tersebut, pemerintah Iran menyatakan penolakan keras. Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai ancaman serangan terhadap fasilitas sipil sebagai tindakan yang berpotensi masuk kategori kejahatan perang.
“Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur yang penting bagi kelangsungan hidup warga sipil di Iran,” kata misi Iran untuk PBB.
“Komunitas internasional dan semua negara memiliki kewajiban hukum untuk mencegah tindakan kejahatan perang yang keji tersebut. Mereka harus bertindak sekarang. Besok sudah terlambat,” tambah pernyataan itu.
Dari pihak Iran, Wakil Bidang Komunikasi Kantor Presiden Iran Seyyed Mehdi Tabatabaei juga menegaskan bahwa pembukaan kembali selat hanya akan dilakukan setelah ada pembayaran ganti rugi atas kerusakan akibat perang. Menurutnya, Iran tengah mempertimbangkan penerapan rezim hukum baru berupa biaya transit bagi kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Eskalasi ancaman ini turut mengguncang pasar global. Harga minyak dunia dilaporkan naik seiring kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk. Reuters melaporkan harga minyak Brent naik sekitar 1,4 persen pada awal perdagangan Asia, dipicu kekhawatiran perang akan semakin meluas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian mengenai langkah diplomatik lanjutan antara kedua negara. Namun, ancaman serangan terhadap fasilitas sipil memperbesar kekhawatiran dunia internasional terhadap dampak kemanusiaan dan ekonomi yang lebih luas apabila konflik terus bereskalasi. []
Redaksi05

