PYONGYANG – Ketegangan di Semenanjung Korea kembali meningkat setelah Korea Utara menembakkan sejumlah rudal balistik ke arah laut di lepas pantai timur pada Rabu (07/04/2026) pagi waktu setempat. Peluncuran dari wilayah Wonsan itu memicu respons darurat dari Seoul dan kembali meredupkan harapan pembukaan jalur diplomasi antara kedua negara.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (Joint Chiefs of Staff/JCS) menyatakan rudal-rudal tersebut diluncurkan sekitar pukul 08.50 waktu setempat dari kawasan Wonsan dan menempuh jarak sekitar 240 kilometer sebelum jatuh ke perairan timur.
Peluncuran ini terjadi hanya sehari setelah militer Korea Selatan mendeteksi aktivitas serupa di dekat Pyongyang yang diduga mengalami kegagalan teknis pada fase awal penerbangan. Otoritas Seoul menilai rangkaian uji coba tersebut sebagai tindakan provokatif yang berpotensi memperburuk situasi keamanan kawasan.
Merespons perkembangan itu, Istana Kepresidenan Korea Selatan (Blue House) segera menggelar rapat darurat Dewan Keamanan Nasional untuk membahas langkah mitigasi dan kesiapsiagaan militer.
Pemerintah Korea Selatan mengecam keras tindakan tersebut dan menegaskan bahwa peluncuran rudal balistik melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di sisi lain, Korea Utara kembali menegaskan sikap politiknya terhadap Seoul di tengah isu rekonsiliasi yang sempat mencuat dalam beberapa hari terakhir.
“Identitas ROK, negara musuh yang paling memusuhi DPRK, tidak akan pernah berubah dengan kata-kata atau perilaku apa pun,” kata Jang Kum Chol seperti dikutip media pemerintah Korean Central News Agency (KCNA), sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu, (08/04/2026).
Dalam pernyataan tersebut, Jang menggunakan akronim resmi Republic of Korea (ROK) untuk Korea Selatan dan Democratic People’s Republic of Korea (DPRK) untuk Korea Utara.
Pernyataan keras itu bertolak belakang dengan berkembangnya spekulasi diplomatik setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebelumnya menyampaikan penyesalan kepada Pyongyang terkait insiden pengiriman pesawat nirawak oleh pihak sipil pada awal tahun ini.
Sebagian pengamat di Seoul sempat melihat pernyataan tersebut sebagai sinyal langka menuju pelunakan hubungan. Namun, uji coba rudal terbaru dinilai kembali mempertegas bahwa Pyongyang belum menunjukkan perubahan sikap terhadap negara tetangganya.
Kedua Korea secara teknis masih berada dalam keadaan perang sejak konflik 1950–1953 berakhir hanya dengan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Peluncuran rudal ini diperkirakan akan kembali meningkatkan kekhawatiran regional, terutama di tengah upaya diplomatik yang sebelumnya mulai dibangun untuk menurunkan eskalasi di kawasan Asia Timur. []
Redaksi05

