KYIV – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan fokus diplomasi Amerika Serikat (AS) terhadap perang Ukraina-Rusia saat ini terganggu oleh konflik di Iran. Kondisi tersebut, menurutnya, turut berdampak pada tersendatnya pengiriman bantuan persenjataan, khususnya sistem pertahanan udara yang sangat dibutuhkan Kyiv untuk menghadapi serangan Rusia.
Dalam wawancara yang disiarkan lembaga penyiaran publik Jerman, ZDF, pada Selasa, 14 April 2026, Zelensky menyoroti minimnya perhatian para negosiator perdamaian AS terhadap situasi di Ukraina. Ia menyebut dua utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, kini lebih banyak terlibat dalam pembicaraan terkait Iran.
“jika Amerika Serikat tidak menekan Putin dan hanya terlibat dalam dialog yang lembut dengan Rusia, maka mereka tidak akan lagi takut”.
Zelensky menjelaskan, tertundanya fokus diplomatik AS juga berdampak langsung pada jalur logistik militer. Bantuan rudal pencegat PAC-3 dan PAC-2 dilaporkan mengalami perlambatan distribusi. Persenjataan itu sebagian besar diperoleh melalui program Procurement for Ukraine Resilience and Logistics (PURL), yang memungkinkan negara-negara Eropa membiayai pengadaan peralatan militer buatan AS untuk Ukraina.
“Jika perang berlanjut, akan ada lebih sedikit senjata untuk Ukraina. Ini sangat penting, terutama dalam hal material untuk pertahanan udara,” singgung Zelensky lagi soal bantuan senjata melawan Rusia dari AS.
Dalam konferensi pers saat kunjungan kenegaraan ke Norwegia, Zelensky kembali menegaskan bahwa situasi ini telah diperkirakan sejak awal pecahnya konflik di Timur Tengah. Menurutnya, lambatnya arus bantuan menjadi tantangan serius bagi pertahanan negaranya.
“Pada awal perang di Timur Tengah, kami memahami bahwa kami dapat menghadapi tantangan,” kata Zelensky, sebagaimana dilansir Cnbc Indonesia, Rabu, (15/04/2026).
“Pengiriman datang perlahan dan mencatat bahwa itu adalah situasi yang sangat sulit Ukraina,” tambahnya.
Perundingan damai yang dimediasi AS untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina juga disebut mengalami stagnasi sejak perang Iran meletus pada 28 Februari 2026. Hingga pertengahan April, negosiator Rusia dan Ukraina belum kembali bertemu setelah putaran terakhir di Jenewa pada Februari lalu.
Perang Rusia-Ukraina kini memasuki tahun kelima, dengan korban yang sangat besar. Berdasarkan data yang dikutip dari berbagai lembaga internasional dan analis Barat, jumlah korban militer diperkirakan mencapai 400.000 hingga 650.000 orang, sementara lebih dari 15.000 warga sipil dilaporkan tewas. Situasi ini memperlihatkan betapa krusialnya kesinambungan dukungan internasional bagi Ukraina di tengah perubahan fokus geopolitik global. []
Redaksi05

