Iran Ancam Tutup Laut Merah Jika AS Tak Cabut Blokade

Iran Ancam Tutup Laut Merah Jika AS Tak Cabut Blokade

Bagikan:

TEHERAN – Ancaman baru datang dari Iran di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung. Militer Iran pada Rabu (15/04/2026) memperingatkan akan menghentikan jalur perdagangan di Laut Merah, Teluk Persia, dan Laut Oman apabila Amerika Serikat (AS) tidak segera mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran, sehingga memunculkan risiko baru terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang telah berjalan dua pekan.

Pernyataan tersebut menjadi eskalasi terbaru setelah Washington terus menekan Teheran melalui jalur ekonomi dan maritim. Komando Pusat AS sebelumnya menyatakan pasukannya telah “sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran melalui laut”, sementara data pelacakan pelayaran di Selat Hormuz menunjukkan aktivitas kapal masih berlangsung terbatas.

“Kecuali Washington mengalah, angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun untuk terus berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah,” kata Ali Abdollahi kepada Tasnim, dikutip dari Channel News Asia, Kamis, (16/04/2026).

Ancaman tersebut disampaikan saat jalur negosiasi damai antara AS dan Iran masih terbuka melalui Pakistan. Presiden AS Donald Trump mengindikasikan putaran baru perundingan dapat berlangsung dalam dua hari ke depan di Islamabad, Pakistan, setelah pembicaraan awal yang dipimpin Wakil Presiden (Wapres) AS JD Vance pada akhir pekan lalu belum menghasilkan kesepakatan.

Dari pihak Iran, Kementerian Luar Negeri menyebut sejumlah pesan diplomatik masih terus dipertukarkan melalui Islamabad. Teheran juga disebut sangat mungkin menerima delegasi Pakistan pada Rabu untuk melanjutkan komunikasi kedua pihak.

Di tengah ketegangan tersebut, pasar global mulai merespons. Harga minyak mentah tercatat melemah, sementara saham-saham menguat seiring munculnya harapan kesepakatan yang dapat memulihkan arus minyak melalui Selat Hormuz, sebagaimana diberitakan Channel News Asia, Kamis, (16/04/2026).

Para analis menilai langkah Washington tidak hanya bertujuan menekan pendapatan Iran, tetapi juga memberi tekanan kepada Tiongkok sebagai pembeli utama minyak Iran agar ikut mendorong pembukaan kembali jalur strategis tersebut.

Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah pada fase yang sangat sensitif. Jika blokade dan ancaman balasan terus berlanjut, stabilitas pasokan energi global serta gencatan senjata yang rapuh berpotensi kembali terguncang. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang