Iran Tegas Tolak Kirim Uranium ke AS, Ketegangan Kembali Menguat

Iran Tegas Tolak Kirim Uranium ke AS, Ketegangan Kembali Menguat

Bagikan:

TEHERAN – Pemerintah Iran menegaskan sikap tegasnya untuk tidak memindahkan uranium yang telah diperkaya ke negara lain, termasuk ke Amerika Serikat (AS), di tengah dinamika gencatan senjata yang masih berlangsung antara kedua negara.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa opsi pengiriman uranium ke AS sama sekali tidak pernah menjadi bagian dari pertimbangan pemerintah Iran. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara di stasiun televisi pemerintah, IRIB, Jumat (17/04/2026), sebagaimana dilansir Antara, Jumat, (17/04/2026).

Baghaei menekankan bahwa pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, sebelumnya tidak mencerminkan adanya perubahan arah diplomasi baru, melainkan masih berada dalam kerangka kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April 2026.

“Kami tidak mencapai kesepakatan baru. Perjanjian gencatan senjata tersebut adalah gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April,” ujarnya.

Dalam perkembangan lain, Iran memastikan Selat Hormuz tetap dibuka untuk pelayaran komersial selama masa gencatan senjata. Namun, kebijakan tersebut disertai penerapan jalur aman tertentu sesuai kesepakatan dengan pihak AS.

Baghaei juga menyoroti ketegangan yang masih terjadi, termasuk tudingan bahwa AS tidak sepenuhnya menjalankan komitmen dalam memperluas ketentuan gencatan senjata ke wilayah Lebanon. Tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Washington dan Yerusalem.

Lebih lanjut, Iran memperingatkan kemungkinan langkah balasan apabila blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz terus berlanjut. Menurut Baghaei, hingga kini belum ada pembahasan terkait perpanjangan masa gencatan senjata, sementara proses mediasi yang dipimpin Pakistan masih berfokus pada penghentian konflik serta perlindungan kepentingan Iran.

Situasi di kawasan tersebut tetap dinamis, terutama setelah Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026, menyusul larangan terhadap kapal yang berafiliasi dengan Israel dan AS. Di sisi lain, AS juga menerapkan pembatasan terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran usai perundingan damai sebelumnya mengalami kebuntuan.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa putaran lanjutan negosiasi antara Iran dan AS berpotensi kembali digelar dalam waktu dekat, dengan Pakistan sebagai mediator utama. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang