WASHINGTON – Upaya meredakan konflik di Timur Tengah kembali berlanjut setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga pekan, meski situasi di lapangan masih diwarnai insiden serangan yang menimbulkan korban jiwa.
“Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga minggu,” kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial, sebagaimana dilansir Detiknews, Jumat, (24/04/2026).
Trump juga membuka peluang perundingan langsung antara pemimpin kedua negara dalam waktu dekat. Ia menyebut optimisme terhadap tercapainya kesepakatan damai permanen dalam waktu dekat.
“Saya pikir ada peluang yang sangat besar untuk mencapai perdamaian. Menurut saya, ini seharusnya menjadi hal yang mudah,” ujar Trump.
“Saya menantikan untuk menjamu Perdana Menteri Israel, Netanyahu, dan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dalam waktu dekat,” imbuhnya.
Namun di tengah komitmen perpanjangan gencatan senjata tersebut, situasi keamanan belum sepenuhnya stabil. Serangan militer Israel di wilayah Lebanon dilaporkan masih terjadi, termasuk insiden pada Rabu (22/04/2026) yang menewaskan lima orang.
Salah satu korban merupakan jurnalis bernama Amal Khalil yang tewas saat menjalankan tugas peliputan di dekat wilayah al-Tayri. Berdasarkan laporan, serangan rudal menghantam area di sekitar korban, bahkan sebuah bangunan tempat perlindungan turut menjadi sasaran.
Selain itu, fotografer Zeinab Faraj yang berada di lokasi berhasil diselamatkan dalam kondisi mengalami luka di bagian kepala. Proses evakuasi disebut sempat terkendala, dengan tudingan adanya hambatan terhadap tim penyelamat.
Pemerintah Lebanon melalui Perdana Menteri Nawaf Salam mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
“Lebanon tidak akan menyia-nyiakan upaya apa pun dalam mengejar kejahatan ini di hadapan badan-badan internasional yang relevan,” katanya.
Di sisi lain, militer Israel membantah telah menghalangi proses evakuasi korban. Mereka mengklaim hanya menerima laporan adanya jurnalis yang terluka akibat serangan tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi terus diupayakan, ketegangan di lapangan masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan perdamaian jangka panjang antara kedua pihak. []
Redaksi05

