AS Perintahkan Tembak Kapal Iran, Selat Hormuz Memanas

AS Perintahkan Tembak Kapal Iran, Selat Hormuz Memanas

Bagikan:

WASHINGTON DC – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kian meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memerintahkan militer negaranya untuk menindak tegas kapal-kapal Iran yang diduga memasang ranjau, di tengah mandeknya upaya diplomasi kedua negara serta ancaman terhadap jalur pelayaran global.

Perintah tersebut diumumkan pada Kamis (23/04/2026) dan menjadi respons atas aktivitas Iran yang dinilai mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas dunia. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan langkah militer akan ditingkatkan untuk memastikan keamanan kawasan.

“Saya telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak dan membunuh kapal apa pun, meskipun kecil yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Kompas, Jumat, (24/04/2026).

Trump juga menyebut operasi penyapuan ranjau tengah berlangsung dan akan diperluas. “Saya dengan ini memerintahkan aktivitas itu untuk terus berlanjut, tetapi dengan tingkat tiga kali lipat!” ujarnya.

Kebijakan tersebut muncul setelah militer AS menyita kapal tanker yang diduga terlibat penyelundupan minyak Iran di Samudra Hindia. Kapal tersebut sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS. Di sisi lain, Iran melalui Garda Revolusi dilaporkan menyerang kapal kargo dan menyita sejumlah kapal di kawasan yang sama.

Kepala peradilan Iran, Gholam Hossein Mohseni Ejei, menyatakan pihaknya akan menindak kapal yang dianggap melanggar hukum. Ia juga menegaskan kekuatan militer Iran di kawasan tersebut. “Unjuk kekuatan angkatan bersenjata Iran di Selat Hormuz adalah sumber kebanggaan,” katanya.

Di tengah eskalasi militer, jalur diplomasi antara kedua negara masih menemui kebuntuan. Rencana pertemuan di Islamabad belum terlaksana lantaran Iran menuntut pencabutan blokade pelabuhan, sementara AS meminta jaminan pembukaan jalur pelayaran internasional.

Trump menilai peluang kesepakatan masih terbuka, namun tidak menutup opsi militer. “Jika mereka tidak ingin membuat kesepakatan, maka saya akan menyelesaikannya secara militer,” tegasnya.

Situasi ini turut memicu kekhawatiran dunia pelayaran internasional. Sejak konflik meningkat pada akhir Februari, lebih dari 30 kapal dilaporkan mengalami serangan di kawasan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman, sehingga meningkatkan biaya asuransi dan risiko pelayaran.

Perwakilan organisasi pelayaran internasional menilai stabilitas dan jaminan keamanan menjadi kunci agar aktivitas pelayaran global kembali normal, terutama dari ancaman ranjau yang dinilai sangat berbahaya bagi kapal sipil.

Di tengah konflik tersebut, Trump juga mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selama tiga pekan. Namun, situasi di lapangan dilaporkan masih rapuh dengan kedua pihak saling menuding melakukan pelanggaran.

Kondisi ini menunjukkan bahwa eskalasi militer di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global melalui terganggunya distribusi energi dunia. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang