WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diperkirakan akan meminta tambahan waktu kepada Kongres untuk mempertahankan operasi militer terhadap Iran yang mendekati batas ketentuan 60 hari tanpa persetujuan legislatif, di tengah tekanan politik dan risiko eskalasi konflik yang kian kompleks.
Ketentuan tersebut mengacu pada Undang-Undang Resolusi Kekuasaan Perang (War Powers Resolution), yang mewajibkan presiden memperoleh persetujuan Kongres setelah 60 hari operasi militer berlangsung, atau menghentikan keterlibatan militer dengan opsi perpanjangan 30 hari melalui pemberitahuan resmi.
Seorang analis keamanan, Earl Rasmussen, menyebut langkah meminta perpanjangan menjadi opsi yang kemungkinan ditempuh Trump untuk menghindari dampak politik dari penarikan pasukan. “Trump berada dalam situasi tanpa pilihan menguntungkan, tetapi berusaha mencari jalan keluar. Ia kemungkinan akan meminta perpanjangan tambahan,” ujarnya, sebagaimana dilansir Antara, Rabu, (29/04/2026).
Ia menilai keputusan apa pun yang diambil akan membawa konsekuensi signifikan, baik secara politik domestik maupun stabilitas kawasan. “Jika Trump menarik pasukan, itu tidak akan terlihat baik secara politik. Ia mungkin akan melanjutkan ancamannya, tetapi hasilnya kemungkinan lebih buruk,” katanya.
Operasi militer AS terhadap Iran diketahui telah berlangsung sejak akhir Februari 2026, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan yang menimbulkan kerusakan serta korban sipil. Ketegangan sempat mereda setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada awal April, namun upaya diplomasi lanjutan tidak menghasilkan kesepakatan baru.
Di sisi lain, sejak pertengahan April, AS juga menerapkan blokade terhadap jalur laut strategis di sekitar Selat Hormuz, yang semakin memperumit situasi geopolitik dan berdampak pada lalu lintas perdagangan internasional.
Rasmussen juga mendorong agar pemerintah AS mempertimbangkan penghentian konflik sebagai langkah strategis jangka panjang, meski diakui tekanan dari sekutu dan dinamika politik internal dapat memengaruhi arah kebijakan.
Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, keputusan yang akan diambil pemerintah AS dinilai tidak hanya menentukan kelanjutan operasi militer, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah serta posisi politik Trump di dalam negeri. []
Redaksi05

