JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan penanganan dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh masih berada pada tahap penyelidikan. Lembaga antirasuah itu menyebut proses pengusutan belum ditingkatkan ke tahap penyidikan karena pertimbangan manajemen perkara di tengah banyaknya kasus yang sedang ditangani.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan tim penyelidik hingga kini masih mendalami sejumlah informasi dan data terkait proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) tersebut.
“Terkait dengan kereta cepat Whoosh, saat ini prosesnya masih di penyelidikan,” ujar Budi kepada jurnalis di Jakarta, sebagaimana diberitakan Antara, Selasa, (05/05/2026).
Menurut Budi, belum naiknya status perkara ke tahap penyidikan bukan berarti proses penanganan berhenti. KPK tetap melakukan langkah-langkah pendalaman terhadap dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek strategis nasional tersebut.
“Ini manajemen penanganan perkara saja karena memang saat ini banyak perkara yang sedang ditangani oleh KPK. Misalnya, beberapa kegiatan penyelidikan tertutup atau tangkap tangan dalam beberapa bulan terakhir yang dilakukan KPK di sejumlah daerah,” jelasnya.
Ia menegaskan penyelidikan perkara Whoosh masih terus berjalan dan menjadi perhatian penyelidik KPK.
“Penyelidikan ini masih terus berprogres. Beberapa hal juga dilakukan oleh kawan-kawan penyelidik,” katanya.
Kasus dugaan korupsi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung kembali menjadi sorotan setelah mantan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, mengungkap dugaan adanya mark up atau penggelembungan anggaran proyek tersebut melalui kanal YouTube pribadinya pada Oktober 2025.
Dalam pernyataannya, Mahfud menyoroti perbedaan biaya pembangunan kereta cepat per kilometer antara Indonesia dan China yang dinilai terlalu jauh.
“Menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar Amerika Serikat. Akan tetapi, di China sendiri, hitungannya 17-18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat,” katanya.
Ia melanjutkan, “Ini siapa yang menaikkan? Uangnya ke mana? Naik tiga kali lipat. 17 juta dolar AS ya, dolar Amerika nih, bukan rupiah, per kilometernya menjadi 52 juta dolar AS di Indonesia. Nah itu mark up. Harus diteliti siapa yang dulu melakukan ini.”
Menanggapi pernyataan tersebut, KPK sempat meminta Mahfud membuat laporan resmi terkait dugaan korupsi proyek Whoosh. Pada perkembangan berikutnya, Mahfud menyatakan siap memberikan keterangan apabila dipanggil lembaga antirasuah.
KPK kemudian mengumumkan dugaan korupsi proyek Whoosh telah masuk tahap penyelidikan sejak awal 2025. Hingga kini, lembaga tersebut masih mengumpulkan bahan keterangan untuk mendalami potensi kerugian negara dan pihak-pihak yang diduga terlibat dalam perkara tersebut. []
Redaksi05

