Rusia Berlakukan Gencatan Senjata Jelang Parade Hari Kemenangan

Rusia Berlakukan Gencatan Senjata Jelang Parade Hari Kemenangan

Bagikan:

MOSKOW – Rusia resmi memberlakukan gencatan senjata selama dua hari mulai Jumat (08/05/2026) hingga Minggu mendatang dalam rangka peringatan Hari Kemenangan (Victory Day). Kebijakan penghentian sementara operasi militer itu dilakukan menjelang parade tahunan di Lapangan Merah, Moskow, yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (09/05/2026).

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan seluruh aktivitas permusuhan di garis depan, termasuk serangan udara terhadap posisi dan fasilitas militer Ukraina, akan dihentikan selama masa gencatan senjata berlangsung. Pemerintah Rusia juga meminta Ukraina melakukan langkah serupa guna menurunkan eskalasi konflik yang masih berlangsung.

“Kami menyerukan kepada pihak Ukraina untuk mengikuti contoh ini,” tulis pernyataan kementerian tersebut, sebagaimana dilansir Anadolu, Jumat, (08/05/2026).

Hari Kemenangan diperingati setiap 9 Mei di Rusia dan sejumlah negara bekas Uni Soviet sebagai momentum mengenang kemenangan atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II, yang di Rusia dikenal sebagai Perang Patriotik Raya.

Meski mengumumkan penghentian sementara operasi militer, Rusia menegaskan akan memberikan balasan apabila terjadi pelanggaran selama masa gencatan senjata. Pemerintah Rusia juga memperingatkan akan meluncurkan serangan rudal besar-besaran ke pusat Kota Kyiv apabila Ukraina mengganggu jalannya perayaan Hari Kemenangan di Moskow.

Di sisi lain, Pemerintah Ukraina sebelumnya juga telah mengumumkan gencatan senjata versinya sendiri sejak Selasa tengah malam. Namun, pihak Kyiv menuduh Rusia tetap melakukan serangan udara dan operasi di garis depan meskipun penghentian permusuhan telah diumumkan.

Ketegangan antara kedua negara masih berlangsung di tengah upaya penghentian sementara konflik tersebut. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru terkait potensi pelanggaran gencatan senjata yang dapat memicu eskalasi lebih luas di kawasan. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang