WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan berakhirnya gencatan senjata dengan Iran setelah perundingan terbaru kedua negara menemui jalan buntu. Trump menilai proposal balasan dari Teheran tidak dapat diterima dan membuat peluang perdamaian semakin menipis.
Trump menyebut kondisi gencatan senjata saat ini berada pada fase paling rentan sejak disepakati melalui proses mediasi sebelumnya. Pernyataan itu disampaikan di Gedung Putih pada Senin (11/05/2026), sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (12/05/2026).
“Saya akan mengatakan, ini salah satu yang paling lemah saat ini,” kata Trump kepada wartawan.
“Saya akan mengatakan gencatan senjata ini benar-benar seperti sedang memakai alat bantu hidup.”
Ketegangan meningkat setelah pemerintah Iran mengirim proposal tandingan terkait penghentian konflik dan pengaturan keamanan di Selat Hormuz. Namun, proposal tersebut langsung ditolak Washington.
Trump mengatakan pemerintahannya tetap menginginkan kemenangan penuh dalam konflik tersebut dan menilai tekanan terhadap AS tidak akan memengaruhi keputusan politiknya.
“Kami akan mendapatkan kemenangan penuh,” ujar Trump.
“Mereka berpikir saya akan lelah menghadapi ini. Saya akan bosan, atau mendapat tekanan. Tapi tidak ada tekanan.”
Selain mempertimbangkan penghentian gencatan senjata, Trump juga membuka kemungkinan menghentikan pengawalan militer kapal dagang dan kapal minyak AS di Selat Hormuz. Operasi pengamanan yang diberi nama Operation Freedom sebelumnya diluncurkan pada 6 Mei 2026, tetapi dihentikan kurang dari dua hari kemudian.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membela proposal yang diajukan Teheran. Pemerintah Iran menilai usulan tersebut bersifat bertanggung jawab dan bertujuan menghentikan perang secara menyeluruh.
Berdasarkan laporan kantor berita semi-resmi Tasnim, proposal Iran mencakup penghentian perang di semua front, penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta jaminan tidak adanya lagi serangan terhadap wilayah Iran.
Iran juga meminta kompensasi atas kerusakan akibat perang dan menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Trump kemudian merespons keras proposal tersebut melalui akun media sosial Truth Social dan pernyataan di Gedung Oval.
“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut ‘perwakilan’ Iran. Saya tidak suka itu — benar-benar tidak bisa diterima,” tulis Trump.
Dalam kesempatan lain, Trump bahkan menyebut proposal Iran sebagai “sampah”.
“Dokumen sampah yang mereka kirim kepada kami itu bahkan tidak saya selesaikan membacanya,” katanya.
Ketegangan juga merembet pada isu program nuklir Iran. Trump menuduh Teheran mundur dari pembahasan terkait pemindahan uranium yang diperkaya, sementara Iran membantah adanya proposal resmi mengenai pemindahan material nuklir tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut mendesak agar stok uranium Iran dipindahkan sebelum perang benar-benar dinyatakan berakhir.
“Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan program 60 Minutes milik CBS.
Hingga kini, Iran masih memblokir Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Situasi itu memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. []
Redaksi05

