WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan tidak membutuhkan bantuan China untuk menghentikan konflik dengan Iran, meski tetap berencana membahas isu tersebut secara panjang lebar dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan bilateral pekan ini.
Pernyataan itu disampaikan Trump menjelang keberangkatannya ke Beijing di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran selama dua setengah bulan terakhir.
Trump menyebut Washington merasa masih mampu mengendalikan situasi tanpa intervensi Beijing, meskipun China diketahui menjadi mitra dagang utama Iran sekaligus pembeli terbesar minyak negara tersebut.
“Kita punya banyak hal untuk dibahas. Sejujurnya, saya tidak akan mengatakan Iran adalah salah satunya, karena kita sudah mengendalikan Iran dengan sangat baik,” kata Trump kepada wartawan, sebagaimana dilansir AFP, Rabu (13/05/2026).
Trump juga kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran terkait konflik yang kini berujung pada kebuntuan di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
“Kita akan membuat kesepakatan atau mereka akan dihancurkan,” imbuhnya.
Konflik antara Iran dengan AS dan Israel disebut semakin memanas sejak operasi militer besar-besaran dilancarkan dua setengah bulan lalu. Ketegangan itu kemudian berdampak pada stabilitas jalur perdagangan energi dunia, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi lintasan utama distribusi minyak global.
Di sisi lain, China tetap memiliki posisi penting dalam dinamika konflik tersebut. Selain menjadi pendukung diplomatik Iran, Beijing juga dilaporkan terus membeli minyak Iran yang dikenai sanksi internasional.
Meski demikian, Trump menegaskan hubungannya dengan Xi Jinping tetap berjalan baik. Ia bahkan menyebut Presiden China sebagai sosok yang dekat dengan AS.
“Mereka mendapatkan banyak minyak dari daerah itu. Kami tidak punya masalah. Dan dia adalah teman saya. Dia adalah seseorang yang akrab dengan kami,” kata Trump.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping diperkirakan turut membahas berbagai isu strategis lain, mulai dari perdagangan, keamanan kawasan Indo-Pasifik, hingga ketegangan geopolitik global yang belakangan meningkat akibat perang di Timur Tengah. []
Redaksi05

