MOSKOW – Serangan drone jarak jauh antara Rusia dan Ukraina terus meningkat dalam sepekan terakhir. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah mencegat dan menghancurkan sedikitnya 3.124 drone Ukraina, sementara serangan terbaru ke wilayah Moskow dilaporkan menewaskan empat orang dan merusak sejumlah fasilitas sipil.
Data yang dikutip kantor berita RIA menunjukkan jumlah drone terbanyak ditembak jatuh terjadi pada 13 Mei dan 17 Mei 2026. Pada dua tanggal tersebut, masing-masing sebanyak 572 drone dan 1.054 drone berhasil dihancurkan, terutama di wilayah Rusia bagian Eropa.
Di tengah eskalasi itu, serangan drone terbesar terhadap Moskow dalam lebih dari satu tahun terakhir terjadi pada Minggu (17/05/2026). Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin menyebut sistem pertahanan udara Rusia menghancurkan 81 drone yang mengarah ke ibu kota sejak tengah malam.
Sobyanin mengatakan sedikitnya 12 orang mengalami luka-luka, terutama di sekitar pintu masuk kilang minyak Moskow. Selain itu, tiga rumah dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
Meski demikian, Sobyanin memastikan fasilitas utama kilang minyak tidak terdampak. Bandara Sheremetyevo juga melaporkan serpihan drone jatuh di area bandara, namun tidak menimbulkan kerusakan berarti.
Sementara itu, Gubernur wilayah Moskow Andrei Vorobyov menyebut seorang perempuan tewas setelah sebuah rumah di Khimki, wilayah utara Moskow, terkena serangan drone. Dua korban lain dilaporkan meninggal dunia di Desa Pogorelki, Distrik Mytishchi.
Vorobyov mengatakan tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap satu orang yang diduga tertimbun reruntuhan bangunan. Ia juga mengungkap sejumlah gedung apartemen dan infrastruktur mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
Di pihak lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menegaskan serangan yang dilakukan negaranya merupakan bentuk balasan atas gempuran besar Rusia terhadap Kyiv dalam beberapa hari terakhir. Pernyataan itu disampaikan Zelenskiy melalui unggahan video di platform X, yang memperlihatkan drone, asap hitam, dan petugas pemadam kebakaran di lokasi serangan.
“Respons kami terhadap upaya Rusia memperpanjang perang dan serangannya terhadap kota-kota serta komunitas kami sepenuhnya dapat dibenarkan,” kata Zelenskiy, sebagaimana dilansir Kontan, Minggu (17/05/2026).
Ia juga menyatakan Ukraina mampu menyerang target yang berjarak lebih dari 500 kilometer dari perbatasan meski sistem pertahanan udara Rusia di sekitar Moskow tergolong kuat.
“Kami dengan jelas mengatakan kepada Rusia: negara mereka harus mengakhiri perang ini,” ujarnya.
Dalam pidato video lainnya, Zelenskiy mengklaim aktivitas militer Ukraina mulai mengubah keseimbangan kekuatan di garis depan perang.
“Sebagai contoh, indikator aktivitas hari ini menunjukkan langkah aktif kami lebih besar dibandingkan Rusia. Ini hasil yang sangat signifikan,” katanya tanpa merinci lebih lanjut.
Staf Umum Militer Ukraina melalui Telegram menyebut salah satu serangan berhasil memicu kebakaran di sebuah pabrik di luar Moskow yang disebut terlibat dalam produksi senjata presisi tinggi. Ukraina juga mengklaim telah menyerang titik komando pengendali penerbangan drone di wilayah Donetsk timur yang diduduki Rusia.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia menuduh Kyiv sengaja menargetkan warga sipil dalam serangan tersebut. Juru bicara Kemlu Rusia Maria Zakharova menyampaikan kritik keras terhadap aksi Ukraina.
“Diiringi lagu-lagu Eurovision, rezim Kyiv yang didanai Uni Eropa kembali melakukan serangan teroris massal,” kata Zakharova kepada kantor berita TASS.
Baik Rusia maupun Ukraina sama-sama membantah sengaja menyerang warga sipil. Namun, intensitas serangan drone jarak jauh terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir seiring upaya kedua negara melemahkan infrastruktur lawan, termasuk kilang minyak, depot logistik, dan jaringan pipa energi. []
Redaksi05

