Trump Ultimatum Iran: Bertindak Cepat atau Hancur

Trump Ultimatum Iran: Bertindak Cepat atau Hancur

Bagikan:

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ultimatum keras kepada Iran di tengah kebuntuan negosiasi penghentian perang yang melibatkan Washington dan Israel. Trump memperingatkan Teheran agar segera menyetujui kesepakatan damai atau menghadapi konsekuensi yang lebih besar.

Peringatan itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Minggu (17/05/2026), setelah ia menggelar pertemuan tertutup dengan tim keamanan nasional AS untuk membahas arah kebijakan perang terhadap Iran.

“Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya segera bertindak, cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. Waktu sangat penting,” tulis Trump, sebagaimana dilansir Kompas, Minggu (17/05/2026).

Pertemuan tersebut berlangsung di klub golf presiden di Virginia, beberapa jam setelah Trump kembali ke Washington usai kunjungan diplomatik ke China. Sejumlah pejabat penting disebut hadir, di antaranya Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur Central Intelligence Agency (CIA) John Ratcliffe, serta utusan khusus Steve Witkoff.

Sumber yang dikutip Cable News Network (CNN) menyebut Trump semakin tidak sabar terhadap sikap Iran dalam negosiasi diplomatik. Penutupan Selat Hormuz yang terus berlangsung juga disebut menjadi salah satu faktor yang memicu frustrasi Gedung Putih.

Sejumlah pejabat pemerintahan AS sebelumnya memilih menunda keputusan strategis terkait Iran hingga pembicaraan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping selesai dilakukan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, Trump dilaporkan mulai mempertimbangkan opsi melanjutkan operasi militer besar-besaran untuk menekan Iran agar menerima kompromi damai.

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) bahkan disebut telah menyiapkan sejumlah opsi target militer jika Trump memutuskan melanjutkan serangan. Target tersebut mencakup fasilitas energi dan infrastruktur strategis di Iran.

Selain membahas strategi perang dengan tim keamanan nasionalnya, Trump juga melakukan komunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu. Percakapan itu dikonfirmasi juru bicara Netanyahu dan seorang pejabat AS.

Di sisi lain, Iran belum menunjukkan sinyal akan melunak. Media pemerintah Iran melaporkan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan sejumlah pejabat tinggi lainnya. Pakistan diketahui berperan sebagai mediator utama dalam perundingan damai antara AS dan Iran.

Dalam pertemuan tersebut, pejabat Teheran kembali menuding kehadiran AS di Timur Tengah menjadi sumber ketidakstabilan kawasan. Menurut kantor berita Tasnim, Pezeshkian menilai AS dan Israel selama ini berupaya memecah belah negara-negara Islam.

Pezeshkian juga menuduh Washington menciptakan ketidakpercayaan di kawasan meski Iran mengaku ingin membangun hubungan yang stabil dengan negara-negara tetangga di Timur Tengah.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda tercapainya kesepakatan damai di tengah meningkatnya ancaman militer dan ketegangan geopolitik antara kedua negara. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang