Iran Sebut Trump Plin-plan Usai Batalkan Serangan Militer

Iran Sebut Trump Plin-plan Usai Batalkan Serangan Militer

Bagikan:

WASHINGTON DC – Ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah Teheran menilai Presiden AS Donald Trump tidak konsisten terkait rencana serangan militer terhadap Iran. Pernyataan itu muncul usai Trump membatalkan operasi militer yang sebelumnya disebut telah dipersiapkan untuk dilancarkan pada Selasa (19/05/2026).

Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menilai perubahan sikap Trump menunjukkan pendekatan yang tidak tegas dalam menghadapi Iran. Rezaei bahkan menyebut ancaman serangan yang dibatalkan itu sebagai bentuk tekanan yang gagal.

Dalam pernyataannya melalui media sosial X, Rezaei mengatakan Trump sebelumnya menetapkan tenggat waktu serangan militer terhadap Iran sebelum akhirnya membatalkan keputusan tersebut.

“menetapkan tenggat waktu untuk serangan militer dan kemudian membatalkannya sendiri, dengan harapan yang sia-sia untuk memaksa bangsa dan para pejabat Iran untuk menyerah!” kata Rezaei sebagaimana diberitakan Detik, Selasa, (20/05/2026).

“Kekuatan militer yang tangguh dan bangsa Iran yang hebat akan memaksa mereka (AS-red) untuk mundur dan menyerah,” cetus Rezaei.

Sebelumnya, Trump menyatakan dirinya menunda serangan terhadap Iran setelah menerima permintaan dari Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Trump mengungkapkan para pemimpin negara Teluk sedang melakukan negosiasi serius yang dinilai berpotensi menghasilkan kesepakatan baru terkait Iran dan kawasan Timur Tengah.

“Bahwa negosiasi serius sedang berlangsung, dan bahwa, menurut pendapat mereka, sebagai Pemimpin dan Sekutu yang Hebat, sebuah Kesepakatan akan dibuat, yang akan sangat dapat diterima oleh Amerika Serikat, serta semua Negara di Timur Tengah, dan sekitarnya,” kata Trump melalui platform Truth Social miliknya.

“Kesepakatan ini akan mencakup, yang terpenting, TIDAK ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!” tambahnya.

Trump juga menyebut telah menginstruksikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Daniel Caine, dan militer AS untuk menunda serangan yang semula dijadwalkan berlangsung pada Selasa.

“Berdasarkan rasa hormat saya kepada para Pemimpin yang disebutkan di atas, saya telah menginstruksikan Menteri Perang, Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Daniel Caine, dan Militer Amerika Serikat, bahwa kita TIDAK akan melakukan serangan terjadwal ke Iran besok (Selasa, red), tetapi telah menginstruksikan mereka lebih lanjut untuk bersiap melakukan serangan skala besar ke Iran, kapan saja, jika kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai,” kata Trump.

Di tengah situasi tersebut, Iran juga mengeluarkan peringatan keras kepada AS dan sekutunya. Komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, Ali Abdollahi, menegaskan Iran siap memberikan respons militer besar jika terjadi agresi baru terhadap negaranya.

“Kami mengumumkan kepada Amerika dan sekutu-sekutunya: Jangan melakukan kesalahan strategis atau kesalahan perhitungan lagi,” ucap Abdollahi.

“Mereka harus tahu bahwa setiap agresi atau invasi baru oleh musuh-musuh dari tanah air kita dan bangsa kita yang membanggakan ini, akan ditanggapi dengan respons yang cepat, tegas, kuat, dan luas,” tegasnya.

Abdollahi juga memperingatkan bahwa Iran akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk mempertahankan negara dari ancaman eksternal.

“Kami akan membela hak-hak bangsa Iran dengan segenap kekuatan kami dan memotong tangan setiap agresor,” pungkas Abdollahi. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang