Iran Tuduh AS Picu Perang Baru, Timur Tengah Kian Memanas

Iran Tuduh AS Picu Perang Baru, Timur Tengah Kian Memanas

Bagikan:

TEHERAN – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menuduh Amerika Serikat (AS) masih membuka peluang agresi militer di tengah negosiasi damai yang berlangsung. Situasi tersebut memicu kekhawatiran global karena berdampak pada distribusi energi dunia hingga ancaman krisis pangan internasional.

Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai pergerakan AS menunjukkan indikasi persiapan konflik baru meski jalur diplomasi masih dibuka. Pernyataan itu disampaikan menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyebut Washington akan mengambil langkah keras apabila Teheran tidak menyepakati perdamaian.

“Musuh sedang berupaya memulai perang baru,” ujar Ghalibaf dalam pesan audio yang disiarkan media Iran, sebagaimana dilansir Media Indonesia, Rabu (20/05/2026).

Ghalibaf menegaskan Iran akan memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk agresi. Menurut dia, tekanan ekonomi dan politik yang dilakukan AS belum mengubah tujuan militer Washington terhadap Teheran.

Di sisi lain, Trump masih membuka ruang diplomasi dengan mengklaim proses negosiasi antara AS dan Iran telah memasuki tahap akhir.

“Kita akan memiliki kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit buruk. Namun, semoga itu tidak terjadi,” kata Trump kepada wartawan.

Trump juga menyatakan dirinya tidak ingin terburu-buru mengambil langkah militer dan berharap jumlah korban jiwa dapat diminimalkan.

Meski gencatan senjata pada 8 April lalu sempat menghentikan konfrontasi langsung Iran dengan AS dan Israel, ketegangan politik terus berlanjut melalui perang pernyataan antarnegara. Garda Revolusi Iran bahkan mengingatkan bahwa eskalasi baru dapat memperluas konflik hingga melampaui kawasan Timur Tengah.

Situasi tersebut turut memengaruhi stabilitas ekonomi global. Harga minyak dunia dilaporkan turun lebih dari lima persen pada Rabu akibat munculnya harapan tercapainya kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran.

Namun, penutupan Selat Hormuz masih menjadi ancaman serius bagi rantai pasok energi dunia. Jalur pelayaran strategis itu diketahui menjadi akses distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) juga memperingatkan potensi kenaikan harga pangan dunia. Selain energi, Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi hampir sepertiga pupuk global.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Pakistan berupaya mengambil peran sebagai mediator perdamaian. Kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), melaporkan Menteri Dalam Negeri Pakistan kembali mengunjungi Teheran untuk kedua kalinya dalam sepekan guna mendorong penyelesaian konflik secara formal.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, turut menyambut langkah Trump yang masih membuka opsi diplomasi. Ia meminta Iran memanfaatkan peluang tersebut demi menghindari dampak lebih luas dari eskalasi konflik.

Sementara itu, Israel meningkatkan status kewaspadaan militernya. Kepala Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, menyatakan seluruh pasukan berada dalam kondisi siaga penuh menghadapi kemungkinan perkembangan situasi.

“Kami siap menghadapi perkembangan apa pun,” tegasnya.

Di dalam negeri AS, Trump juga menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi yang mulai membebani masyarakat. Penutupan Selat Hormuz disebut menguras stok minyak cadangan dan memicu gejolak harga bahan bakar di sejumlah negara, termasuk Kenya, yang dilaporkan mengalami kerusuhan akibat lonjakan harga energi. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang