AS Syaratkan Uranium Iran Dimusnahkan dalam Kesepakatan Damai

AS Syaratkan Uranium Iran Dimusnahkan dalam Kesepakatan Damai

Bagikan:

WASHINGTON DC – Rancangan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut akan mensyaratkan penghancuran material uranium yang telah diperkaya serta penerapan mekanisme inspeksi ketat sebagai bagian dari upaya memastikan program nuklir Iran tidak lagi menjadi sumber ketegangan regional.

Seorang pejabat senior AS mengungkapkan, kesepakatan sementara yang sedang dibahas mencakup beberapa poin utama, mulai dari pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz hingga langkah-langkah pembongkaran program nuklir Iran. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan melalui sambungan telepon pada Jumat (12/06/2026).

Menurut pejabat tersebut, material nuklir yang telah diperkaya akan diamankan oleh AS untuk kemudian dihancurkan di lokasi dan dipindahkan keluar dari Iran. Selain itu, kesepakatan juga akan dilengkapi sistem pengawasan yang bertujuan memastikan seluruh komitmen dapat dijalankan dalam jangka panjang.

“Pada akhirnya, kesepakatan ini memiliki rezim inspeksi yang memastikan bahwa ini merupakan komitmen jangka panjang dan dapat ditegakkan dalam jangka panjang,” ujar pejabat itu.

Selain aspek nuklir, rancangan kesepakatan juga mengatur pembukaan kembali aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur strategis distribusi energi dunia. Kelancaran lalu lintas di kawasan tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan minyak dan gas alam global serta mengurangi tekanan terhadap harga energi dan kebutuhan pokok.

Pejabat senior AS itu menambahkan, Iran berpeluang memperoleh keringanan tekanan ekonomi apabila seluruh ketentuan dalam kesepakatan dipatuhi. Langkah tersebut diharapkan membuka jalan bagi Teheran untuk kembali terintegrasi dengan perekonomian global.

Meski demikian, proses finalisasi masih menghadapi tantangan politik. Menurut pejabat tersebut, terdapat kelompok garis keras di Iran yang berupaya menggagalkan kesepakatan. Namun, ia meyakini banyak pemimpin Iran tetap menginginkan tercapainya perdamaian.

“Saya merasa sangat baik dengan kesepakatan ini. Tetapi mari kita lihat. Kita belum benar-benar sampai di garis akhir,” paparnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kedua negara tengah mengupayakan penandatanganan kesepakatan awal yang akan mengakhiri konflik di berbagai front, termasuk di Lebanon. Ia menjelaskan bahwa pembahasan rinci terkait program nuklir Iran akan diselesaikan dalam waktu 60 hari setelah kesepakatan awal ditandatangani.

Araghchi juga menyebut para pihak masih dapat menyepakati perpanjangan waktu apabila diperlukan dalam proses negosiasi lanjutan.

Selain isu nuklir, status Selat Hormuz turut menjadi pembahasan penting. Iran menginginkan adanya mekanisme biaya bagi kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut sebagai kompensasi atas layanan yang diberikan.

“Akan ada biaya di dalamnya. Dan biaya itu harus dibayar,” kata Araghchi, sebagaimana dilansir Kompas, Jumat (13/06/2026).

Perkembangan ini menunjukkan bahwa pembicaraan damai AS dan Iran tidak hanya berfokus pada penghentian konflik, tetapi juga mencakup pengaturan keamanan kawasan, stabilitas ekonomi, serta pengawasan terhadap aktivitas nuklir yang selama bertahun-tahun menjadi sumber perselisihan kedua negara. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang