BEIRUT – Serangan Israel ke wilayah Beirut, Lebanon, pada Minggu (14/06/2026) waktu setempat disebut mengganggu proses diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang tengah mengupayakan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump bahkan mengaku marah karena serangan tersebut menunda penandatanganan perjanjian.
Menurut Trump, serangan yang terjadi menjelang penandatanganan kesepakatan damai telah menghambat proses diplomatik yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama.
“Hal itu mengacaukan semuanya. Penandatanganan tertunda beberapa jam. Seharusnya sekarang. Sekarang dijadwalkan beberapa jam lagi,” ujar Trump melalui sambungan telepon kepada Axios, sebagaimana dilansir AFP, Senin (15/06/2026).
Serangan Israel ke pinggiran selatan Beirut dilaporkan menewaskan tiga orang. Insiden tersebut memicu ketegangan baru di tengah upaya penghentian konflik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Trump secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas operasi militer tersebut. Menurutnya, waktu pelaksanaan serangan justru berpotensi menghambat tercapainya kesepakatan damai.
“Ini sangat buruk, saya tidak percaya. Satu jam sebelum kita seharusnya menandatangani kesepakatan itu,” tuturnya.
Dengan nada keras, Trump juga menyampaikan kekecewaannya terhadap Netanyahu.
“Kenapa Bibi (Netanyahu) harus melakukan serangan sialan itu,” ungkap Trump.
“Saya sangat marah. Saya sudah memberitahunya. Dia tidak punya akal sehat sama sekali. Saya sudah memberitahunya hal itu,” lanjutnya.
Sebelumnya, Trump mengklaim kesepakatan awal untuk mengakhiri perang di Timur Tengah akan ditandatangani pada Minggu (14/06/2026). Kesepakatan tersebut disebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama berbulan-bulan menjadi titik panas konflik regional dan berpengaruh terhadap pasokan energi dunia.
Tertundanya penandatanganan perjanjian damai menandakan rapuhnya proses diplomasi di kawasan Timur Tengah. Komunitas internasional kini menantikan kelanjutan negosiasi antara AS dan Iran guna memastikan stabilitas kawasan dan keamanan jalur perdagangan global tetap terjaga. []
Redaksi05

