Israel memberlakukan penutupan total di Tepi Barat setelah serangan penembakan menewaskan dua tentaranya, sementara penggerebekan dan pembatasan pergerakan warga memicu peringatan tentang dugaan hukuman kolektif.
HEBRON – Penutupan wilayah pendudukan Tepi Barat dan pembatasan pergerakan warga diberlakukan Israel setelah serangan penembakan di Hebron menewaskan dua tentara Israel dan melukai sejumlah personel lainnya. Kebijakan tersebut diikuti pengerahan sekitar 20 kendaraan militer ke Hebron serta penggerebekan di sejumlah wilayah lain.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan penutupan total atau lockdown di Tepi Barat setelah insiden penembakan tersebut. Langkah itu disertai operasi keamanan yang melibatkan tentara, polisi, dan aparat keamanan Israel untuk mencari pihak yang diduga terkait dengan serangan.
Militer Israel menyatakan operasi di Hebron bertujuan mengidentifikasi dan membongkar infrastruktur serta persenjataan yang dikaitkan dengan serangan, sekaligus memeriksa para tersangka. Pihak militer menyebut operasi tersebut akan dilakukan secara terbatas di area tempat para tersangka beroperasi dan diperkirakan berlangsung selama beberapa hari.
Pembatasan juga berdampak pada mobilitas penduduk di wilayah terdampak. Menurut keterangan militer Israel, warga hanya diperbolehkan keluar melalui tiga titik yang telah ditentukan dan harus menjalani pemeriksaan serta penyaringan keamanan.
Di luar Hebron, pasukan Israel dilaporkan menggerebek sejumlah lokasi di kegubernuran Bethlehem dan Salfit. Kantor berita Palestina Wafa melaporkan tentara Israel memasuki Beit Fajjar dan Tuqu di Bethlehem serta Kafr ad-Dik di Salfit.
Dalam penggerebekan di Kafr ad-Dik, pasukan Israel disebut memaksa sebuah keluarga meninggalkan rumah mereka dan kemudian menggunakan properti tersebut sebagai markas militer. Informasi itu disampaikan Wafa dengan mengutip sumber-sumber lokal.
Kebijakan penutupan dan rangkaian penggerebekan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap warga sipil. Organisasi hak asasi manusia Israel, B’Tselem, memperingatkan bahwa pemerintah Israel sedang menerapkan hukuman kolektif terhadap penduduk wilayah tersebut setelah serangan yang menewaskan dua tentaranya.
Sebagaimana diberitakan Sindo News, Sabtu, (24/10/2026), pengerahan pasukan dan penutupan wilayah berlangsung setelah insiden penembakan di Hebron. Sementara itu, militer Israel menyatakan operasi ditujukan untuk menindaklanjuti serangan dan mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat.
Perkembangan situasi di Hebron dan wilayah lain di Tepi Barat menempatkan keselamatan warga sipil serta akses keluar-masuk wilayah sebagai perhatian utama. Pelaksanaan operasi keamanan dan pembatasan pergerakan berpotensi memengaruhi aktivitas sehari-hari penduduk, sehingga perkembangan kebijakan di lapangan akan menjadi faktor penting dalam menilai dampak lanjutan bagi masyarakat setempat. []
Redaksi 03

