Israel Ambil Alih Rumah Warga Palestina untuk Pos Militer

Israel Ambil Alih Rumah Warga Palestina untuk Pos Militer

Bagikan:

Operasi militer Israel di Hebron dilaporkan memaksa 293 keluarga atau sekitar 2.200 warga Palestina meninggalkan rumah, sementara penahanan dan penutupan akses memperburuk kondisi warga sipil di Tepi Barat.

HEBRON – Sebanyak 293 keluarga atau sekitar 2.200 warga Palestina dilaporkan terusir dari rumah mereka di Hebron, Tepi Barat, setelah operasi militer Israel disertai penutupan akses wilayah dan pengambilalihan sejumlah rumah untuk dijadikan pos militer. Di antara warga terdampak terdapat bayi, perempuan hamil, penyandang disabilitas, penderita penyakit kronis, dan lanjut usia.

Data Perhimpunan Tahanan Palestina (PPS) menyebutkan, sedikitnya 47 warga Palestina juga ditahan sejak operasi militer meningkat pada Jumat (23/10/2026). Operasi tersebut berlangsung di wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki, menyusul serangan terhadap pangkalan militer cadangan Israel yang menewaskan dua tentara.

“Warga yang terusir dari Hebron mencakup 127 bayi, 81 wanita hamil, 26 penyandang disabilitas, 134 penderita penyakit kronis, serta 265 lansia di atas usia 60 tahun,” ungkap lembaga swadaya masyarakat tersebut, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Minggu, (25/10/2026).

Dampak operasi juga terlihat dari pengambilalihan rumah warga di sejumlah kawasan Hebron. Sumber setempat melaporkan, pasukan Israel menggunakan rumah di kawasan Khallat Manna dan Dahiyat al-Zaytoun sebagai barak militer. Sejumlah rumah lain juga dilaporkan diambil alih untuk dijadikan menara pengawasan setelah penghuninya dipaksa pergi.

Pembatasan tidak hanya menyangkut tempat tinggal. Penutupan jalan dan akses penghubung turut membatasi pergerakan warga Palestina di sejumlah wilayah. Di sekitar Bethlehem, jalan utama dan akses antardesa dilaporkan ditutup selama tiga hari berturut-turut hingga Minggu (25/10/2026).

Pasukan Israel juga menutup jalur tanah alternatif menuju Tuqu. Kendaraan warga yang berusaha melintas melalui jalur tersebut dilaporkan menjadi sasaran tembakan gas air mata dan granat kejut.

Di wilayah Yatta, selatan Hebron, aktivis setempat Osama Makhamra melaporkan adanya pembangunan dua pos baru oleh pemukim Israel di atas tanah milik warga Palestina. Para pemukim disebut mendatangkan buldoser dan alat berat, mendirikan tenda konstruksi, serta mulai menyiapkan jaringan air dan listrik di kawasan Khallet al-Fara dan gurun Yatta.

Rangkaian pengusiran, penahanan, dan pembatasan akses tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) Israel. Situasi ini juga bertepatan dengan laporan meningkatnya kekerasan pemukim Israel terhadap petani Palestina selama musim panen zaitun.

Meluasnya dampak operasi militer terhadap tempat tinggal dan mobilitas warga sipil menambah tekanan kemanusiaan di Tepi Barat. Perlindungan terhadap warga yang kehilangan tempat tinggal, terutama kelompok rentan, menjadi persoalan mendesak di tengah berlanjutnya pembatasan wilayah dan ketidakpastian kapan mereka dapat kembali ke rumah masing-masing. []

Redaksi 03

Bagikan:
Internasional Kriminal