Rusia menyerukan penguatan kerja sama negara pengekspor gas untuk menghadapi gangguan pasokan, kenaikan harga, dan ketidakpastian investasi akibat ketegangan di Timur Tengah.
MOSKOW – Gangguan distribusi energi akibat ketegangan di Selat Hormuz mendorong Rusia menyerukan penguatan kerja sama antarnegara pengekspor gas untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga energi dunia. Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev menilai konflik di Timur Tengah telah membatasi pasokan, meningkatkan harga gas, dan mengganggu perencanaan investasi jangka panjang perusahaan energi.
Seruan tersebut disampaikan Tsivilev dalam Pertemuan Tingkat Menteri ke-28 Forum Negara-Negara Pengekspor Gas (GECF) di Moskow, Rusia. Ia menyoroti dampak ketidakstabilan kawasan terhadap rantai pasok energi internasional, termasuk jalur distribusi yang berkaitan dengan sekitar 20 persen pasokan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global.
“Ketidakstabilan situasi di Timur Tengah mau tidak mau telah memukul sektor bahan bakar dan energi global, menyebabkan kenaikan harga gas, membatasi pasokan di seluruh dunia, dan mengganggu rencana investasi jangka panjang perusahaan,” kata Tsivilev, sebagaimana dilansir Antara, Senin, (26/10/2026).
Menurut Tsivilev, tekanan terhadap pasar energi tidak hanya bersumber dari konflik di Timur Tengah. Sejumlah negara anggota GECF, termasuk Iran, Venezuela, dan Rusia, juga menghadapi pembatasan sepihak terhadap perdagangan energi. Situasi tersebut dinilai memperbesar gejolak pasar dan meningkatkan beban biaya energi bagi konsumen.
Di tengah kondisi itu, Tsivilev menekankan pentingnya peran negara-negara anggota GECF dalam menjaga keseimbangan pasar. Besarnya kontribusi anggota forum terhadap produksi dan cadangan gas alam global dinilai menjadi alasan kuat bagi mereka untuk memperkuat koordinasi dalam menghadapi gangguan pasokan.
“Forum kita hari ini menyatukan negara-negara yang menyumbang porsi terbesar dari produksi dan cadangan gas alam global. Hal ini menempatkan tanggung jawab khusus di pundak kita untuk menjaga stabilitas pasar energi global. Untuk merespons tantangan-tantangan baru secara efektif, kita harus berfokus pada beberapa langkah praktis,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Tsivilev mendorong peningkatan kerja sama untuk mengatasi hambatan perdagangan energi dan teknologi. Ia juga menyoroti perlunya perlindungan infrastruktur gas strategis, perluasan keanggotaan GECF, penambahan mitra dialog, serta kolaborasi dalam pengembangan dan produksi peralatan gas dan LNG.
Selain kerja sama perdagangan dan teknologi, Rusia mendorong penyelarasan standar industri serta penguatan basis penelitian. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan negara-negara pengekspor gas dalam menghadapi tantangan industri energi dan menjaga keberlanjutan pasokan.
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang memperbesar kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global. Jalur perairan strategis tersebut berperan dalam pengiriman komoditas energi dari kawasan Teluk Persia ke pasar internasional. Gangguan berkepanjangan berpotensi menimbulkan tekanan lanjutan terhadap pasokan, harga, dan keputusan investasi di sektor energi.
Dorongan Rusia untuk memperkuat koordinasi negara pengekspor gas pun menempatkan kerja sama lintas negara sebagai salah satu opsi menghadapi ketidakpastian pasar. Namun, efektivitas langkah tersebut akan bergantung pada kemampuan para anggota menyelaraskan kebijakan, menjaga infrastruktur strategis, dan mempertahankan kelancaran perdagangan energi di tengah ketegangan geopolitik. []
Redaksi 1

