India Jadi Sarang Sindikat Penipuan Siber, Lansia Dunia Jadi Sasaran

India Jadi Sarang Sindikat Penipuan Siber, Lansia Dunia Jadi Sasaran

Bagikan:

Sindikat penipuan siber yang beroperasi dari India menyasar lansia di berbagai negara melalui penyamaran sebagai aparat dan staf layanan pelanggan, dengan kerugian mencapai miliaran dolar AS serta mendorong aparat internasional memperkuat penindakan.

NEW DELHI – Jaringan penipuan siber yang beroperasi dari India semakin menjadi ancaman bagi masyarakat lintas negara, terutama kelompok lanjut usia (lansia). Dengan memanfaatkan penyamaran sebagai aparat pemerintah, petugas pajak, hingga staf layanan pelanggan perusahaan teknologi, para pelaku menjerat korban untuk menyerahkan uang tunai, emas, maupun akses ke rekening bank mereka.

Pusat aktivitas sindikat tersebut antara lain terdeteksi di Jamtara dan Mewat, dua kawasan di India yang disebut berkembang menjadi basis kejahatan daring. Modus operasinya tidak selalu membutuhkan teknologi canggih karena sebagian pelaku cukup mengandalkan panggilan telepon, manipulasi psikologis, dan rekening bank untuk memindahkan hasil kejahatan.

Laporan investigasi The Diplomat yang ditulis Vedant Sharma pada Senin, 7 September 2026, mengungkapkan bahwa pusat-pusat penipuan daring di India diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar 10 miliar dolar AS per tahun dari korban berbagai negara. Amerika Serikat (AS), Inggris, Australia, dan Kanada termasuk negara yang terdampak.

Penelitian Institut Teknologi Kanpur memperkirakan modus penipuan investasi mata uang kripto atau pig butchering di pasar domestik India menghasilkan 3,6 miliar dolar AS sepanjang 2024. Sementara itu, kerugian warga AS akibat aktivitas sindikat India yang berhasil dilacak pada periode 2023–2025 mencapai 42 juta dolar AS.

Besarnya ancaman tersebut juga terlihat dari persebaran aktivitas kejahatan siber di sejumlah wilayah India. Bharatpur di Rajasthan dilaporkan menyumbang 18 persen dari keseluruhan kejahatan siber di negara itu. Kawasan Mewat, yang mencakup wilayah Rajasthan, Uttar Pradesh, dan Haryana, berkontribusi sebesar 11 persen terhadap total kejahatan daring.

Jika digabungkan dengan Jamtara, kawasan-kawasan tersebut disebut menjadi pusat bagi sekitar 80 persen kejahatan daring di India. Namun, angka tersebut merupakan estimasi yang dilaporkan dalam sumber dan tidak disertai penjelasan mengenai cakupan serta metode penghitungan secara terperinci.

Di Mewat, pelaku menjalankan penipuan dengan menyamar sebagai staf layanan pelanggan Microsoft atau Apple. Mereka menyampaikan peringatan palsu mengenai serangan virus atau gangguan keamanan akun untuk membuat korban panik. Setelah korban percaya, pelaku berusaha memperoleh akses ke rekening bank atau mengarahkan korban untuk menyerahkan uang.

Agen Biro Investigasi Federal (FBI) AS, Jeremy Capello, mengamati bahwa pelaku juga memanfaatkan identitas palsu sebagai aparat pemerintah, petugas pajak, pejabat imigrasi, atau pihak berwenang lainnya. Korban kemudian ditekan agar membayar sejumlah uang dengan alasan menyelesaikan persoalan hukum yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Praktik tersebut semakin sulit diberantas karena sebagian masyarakat di wilayah asal pelaku menjadikan penipuan daring sebagai sumber penghasilan. Laporan yang menjadi rujukan juga menyebut adanya dugaan perlindungan dari sejumlah politikus setempat terhadap sindikat ilegal. Selain itu, anak-anak berusia 12 tahun dilaporkan turut dilibatkan dalam aktivitas penipuan di Mewat.

Di dalam negeri India, sedikitnya 92.000 korban kejahatan daring tercatat pada 2024. Angka tersebut menunjukkan besarnya persoalan yang dihadapi negara itu, baik dalam melindungi warganya sendiri maupun dalam menindak jaringan yang menyasar korban di luar negeri.

Salah satu kasus yang menggambarkan keterlibatan warga dalam perputaran uang hasil kejahatan diungkap Kepolisian Hyderabad pada Januari 2025. Seorang perempuan berusia 60 tahun dilaporkan menyewakan rekening banknya untuk menampung uang hasil penipuan daring dan memperoleh komisi hingga 201.000 dolar AS atau sekitar Rp3,6 miliar.

AS menjadi salah satu negara yang mengalami kerugian besar akibat penipuan tersebut. Data yang dikutip dalam laporan menyebut kerugian warga AS yang dikaitkan dengan sindikat penipuan daring India meningkat dari 807 juta dolar AS pada 2022 menjadi 1,464 miliar dolar AS pada 2024.

Untuk memutus jaringan tersebut, FBI melancarkan operasi khusus pada 2024 yang berujung pada penangkapan 215 orang. Pada Februari 2025, Hitesh Madhubhai Patel, yang disebut sebagai salah satu kaki tangan sindikat, dijatuhi hukuman 20 tahun penjara di Texas dan diperintahkan membayar ganti rugi sebesar 9 juta dolar AS.

Di Maryland, tiga pusat layanan telepon yang berasal dari India juga dilaporkan terlibat dalam penipuan senilai 48 juta dolar AS terhadap 650 korban. Kasus-kasus tersebut memperlihatkan bagaimana layanan komunikasi yang lazim digunakan untuk kegiatan bisnis dapat disalahgunakan untuk menjalankan operasi kriminal lintas negara.

Ancaman serupa menjangkau Australia dan Kanada. Kerugian warga Australia akibat sindikat sejenis dilaporkan mencapai 1,57 miliar dolar AS pada 2025, sedangkan kerugian di Kanada tercatat sebesar 461 juta dolar AS.

Sejumlah perkara di AS juga mengungkap peran warga negara India sebagai pengambil uang dan barang berharga dari korban. Sebagaimana diberitakan Sindo News, Rabu, (28/10/2026), salah satu kasus melibatkan Jay Sunilbharthi Goswami, 21 tahun, yang ditangkap polisi New Jersey ketika berusaha melarikan diri dari Kanada menuju Qatar.

Goswami diduga bertugas sebagai kurir yang mengambil uang dan emas dari korban penipuan di New York dan New Jersey. Ia disebut telah menjalankan tugas tersebut sedikitnya sembilan kali dengan nilai total mencapai 7,5 juta dolar AS. Sebagai operator lapangan, ia dilaporkan menerima bayaran 90.000 dolar AS.

Kasus lain melibatkan Roshan Shah, 22 tahun, warga India yang pernah menempuh pendidikan di Kanada. Menurut laporan Times of India pada Jumat, 31 Juli 2026, Shah dijatuhi hukuman empat tahun penjara oleh Hakim Brett Ludwig pada 27 Juli 2026 setelah mengakui keterlibatannya dalam konspirasi pencucian uang.

Jaksa penuntut menyatakan Shah memasuki AS menggunakan visa kunjungan untuk mengambil uang tunai hasil penipuan. Ia berperan sebagai agen federal gadungan yang mendatangi korban untuk mengambil uang dan emas dengan dalih menyimpannya di tempat aman.

Melalui modus tersebut, Shah dilaporkan memperoleh 3,7 juta dolar AS dari 15 korban di berbagai wilayah AS. Ia ditangkap di New Berlin, Wisconsin, ketika berupaya menipu seorang warga lanjut usia.

Wakil Jaksa Penuntut Brad Schimel mengatakan, “Kasus ini terungkap berkat kerja keras penyidik federal bersama kantor Jaksa AS untuk memerangi sindikat penipuan yang menyasar warga lansia,” kata Schimel.

Asisten Agen Khusus Keamanan Dalam Negeri Negara Bagian Wisconsin, Eric Rice, menegaskan bahwa kasus Shah dan rekan-rekannya memperlihatkan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam upaya memberantas kejahatan daring lintas negara.

Rangkaian perkara tersebut menegaskan bahwa pemberantasan penipuan siber tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku yang berhadapan langsung dengan korban. Penegak hukum juga perlu menelusuri aliran dana, mengidentifikasi pemilik rekening penampung, membongkar pusat operasi, serta memperkuat kerja sama internasional agar jaringan tidak sekadar berpindah lokasi.

Masyarakat, terutama lansia, juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap panggilan yang meminta informasi perbankan, transfer uang, atau penyerahan barang berharga atas nama aparat. Lembaga resmi tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menekan seseorang agar menyerahkan uang secara mendadak tanpa verifikasi. []

Redaksi 03

Bagikan:
Hotnews Internasional Kriminal