Amerika Serikat mengimbau kapal yang tidak berkepentingan mendesak menghindari Teluk Oman dan Selat Hormuz serta meminta awak bersiap menghadapi pemeriksaan di tengah konflik yang mengancam kelancaran distribusi energi global.
SELAT HORMUZ – Risiko keterlambatan pelayaran dan pemeriksaan kapal meningkat di tengah ketegangan di Teluk Oman dan Selat Hormuz. Amerika Serikat (AS) mengimbau kapal yang tidak memiliki kepentingan mendesak untuk menghindari kedua kawasan tersebut, sekaligus meminta awak kapal bersiap menghadapi kemungkinan perubahan haluan, penghentian perjalanan, hingga pemeriksaan oleh pasukan AS.
Imbauan itu disampaikan melalui pernyataan Komando Pusat Angkatan Laut AS yang diterbitkan Pusat Informasi Maritim Gabungan pada Rabu. Kebijakan tersebut menyoroti risiko operasional yang dihadapi industri pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
“Mengingat situasi geopolitik saat ini, kapal-kapal yang tidak perlu melintasi wilayah tersebut diimbau untuk tetap berada pada jarak yang cukup jauh guna menghindari keterlambatan yang tidak perlu dalam pelayaran mereka,” demikian pernyataan tersebut.
Selain menghindari wilayah berisiko apabila tidak diperlukan, awak kapal diminta bersiap mengubah haluan atau menghentikan pelayaran jika mendapat perintah dari pasukan AS. Mereka juga diminta menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk menghadapi kemungkinan pemeriksaan.
Ketentuan tersebut turut mencakup kapal-kapal netral. Berdasarkan pernyataan itu, kapal yang membawa muatan maupun yang berlayar dalam kondisi kosong di antara pelabuhan netral di Teluk Oman dan Selat Hormuz dapat menjalani interogasi, pemeriksaan, serta penggeledahan untuk memastikan apakah tujuan pelayarannya berkaitan dengan blokade yang sedang berlangsung.
Langkah kewaspadaan tersebut berlangsung di tengah konflik AS, Israel, dan Iran. Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, yang kemudian dibalas oleh Iran. Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri permusuhan. Namun, upaya tersebut tidak menghentikan eskalasi karena serangan kembali terjadi dan konflik belum terselesaikan.
Sebagaimana diberitakan Antara, Rabu, (28/10/2026), perkembangan situasi di kawasan tersebut menjadi perhatian bagi industri pelayaran internasional. Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar dunia.
Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu berpotensi menghambat pengiriman energi, mengganggu rantai pasok global, serta menekan produksi dan ekspor minyak. Blokade de facto di Selat Hormuz juga dikaitkan dengan kenaikan harga energi.
Dengan adanya kemungkinan pemeriksaan dan perubahan rute pelayaran, perusahaan perkapalan perlu memperhitungkan risiko keamanan serta potensi keterlambatan dalam operasionalnya. Perkembangan konflik dan kebijakan pengamanan di kawasan tersebut akan turut menentukan kelancaran distribusi energi ke pasar global. []
Redaksi 1
