Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut komunikasi dengan para mediator terus berlangsung untuk membahas rencana tujuh hari yang mencakup penghentian permusuhan, pelonggaran pembatasan, pembukaan Selat Hormuz, dan kelanjutan perundingan dengan AS.
TEHERAN – Iran masih membuka jalur diplomasi dengan Amerika Serikat (AS) melalui para mediator untuk membahas penerapan rencana tujuh hari yang berpotensi menjadi jalan menuju normalisasi pelayaran di Selat Hormuz dan dimulainya kembali perundingan kedua negara. Namun, pelaksanaan usulan tersebut masih bergantung pada persetujuan Teheran dan Washington di tengah gencatan senjata yang rapuh.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan perkembangan komunikasi tersebut melalui unggahan di platform media sosial X pada Rabu (28/10/2026). Ia menegaskan, Iran tetap memberi ruang bagi diplomasi meskipun angkatan bersenjatanya bersiap menghadapi kemungkinan ancaman.
“Ketika Angkatan Bersenjata kami yang gagah berani sepenuhnya siap mempertahankan Tanah Air, Iran terus memberi kesempatan kepada diplomasi untuk berhasil,” tulis Araghchi, sebagaimana dikutip dari Anadolu, Kamis, (29/10/2026).
“Kami terus menjalin komunikasi erat dan berkelanjutan dengan para perantara untuk membahas gagasan yang dapat memastikan penerapan Rencana Tujuh Hari kami, bahkan dalam waktu kurang dari satu pekan,” lanjutnya.
Rencana tersebut sebelumnya disampaikan Iran kepada Washington melalui mediator Qatar pada September. Usulan itu menetapkan sejumlah langkah yang perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari penghentian permusuhan dan pelonggaran pembatasan terhadap Iran hingga pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial.
Pada lima hari pertama, AS diusulkan menjalankan sejumlah langkah yang telah disepakati, termasuk menghentikan permusuhan, mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran, melonggarkan pembatasan ekspor minyak Iran, serta membebaskan aset Iran yang dibekukan.
Jika tahapan tersebut terlaksana, Iran diusulkan membuka kembali Selat Hormuz pada hari keenam agar pelayaran komersial dapat berlangsung normal. Selanjutnya, perundingan untuk mencapai kesepakatan menyeluruh antara Teheran dan Washington akan dilanjutkan pada hari ketujuh.
Meski demikian, skema tersebut masih sebatas usulan dan belum dapat dipastikan akan diterapkan. Pelaksanaannya bergantung pada kesediaan kedua negara memenuhi persyaratan yang diajukan dalam proses negosiasi.
Araghchi sebelumnya juga menyampaikan pada 8 Oktober bahwa Teheran sedang meninjau tanggapan Washington terhadap proposal tersebut. Pertukaran pesan melalui para mediator disebut masih berlangsung sebagai bagian dari upaya mencari titik temu.
Upaya diplomasi itu berlangsung setelah Iran dan AS menandatangani Nota Kesepahaman Islamabad pada 18 Juni melalui perundingan yang dimediasi Pakistan dan Oman. Kesepahaman tersebut mencakup sejumlah persoalan utama, antara lain keamanan maritim di Selat Hormuz, pelonggaran sanksi, dan pencabutan pembatasan laut oleh AS.
Oman, Pakistan, dan Qatar masih berperan dalam komunikasi diplomatik untuk membantu mempertemukan posisi kedua negara. Keberhasilan upaya tersebut akan bergantung pada kemajuan negosiasi dan kesediaan masing-masing pihak menjalankan komitmen yang disepakati.
Jika rencana tujuh hari dapat diterima kedua pihak, pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan kelanjutan perundingan berpeluang menjadi bagian penting dari upaya meredakan ketegangan. Namun, selama kesepakatan belum tercapai, kepastian keamanan maritim dan keberlanjutan gencatan senjata masih menjadi tantangan. []
Redaksi 1

