BNPB melaporkan banjir berdampak pada ribuan warga di Sumatra Utara dan Aceh, disertai gempa bermagnitudo 6,4 di Maluku serta kebakaran lahan di Sulawesi Tengah, sementara sejumlah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem.
JAKARTA – Banjir di sejumlah wilayah Sumatra dan Aceh berdampak pada ribuan warga, sementara kebakaran lahan dan gempa bumi turut menjadi perhatian dalam laporan kebencanaan nasional periode 28–29 Oktober 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir di Kabupaten Asahan, Sumatra Utara, berdampak pada 3.610 jiwa, sedangkan di Kabupaten Aceh Selatan, Aceh, puluhan warga memilih mengungsi karena air masih berpotensi meningkat.
Berdasarkan pemutakhiran BNPB, Kamis, (29/10/2026), banjir di Kabupaten Asahan merendam 405 rumah dan dua fasilitas pendidikan serta menggenangi akses jalan antardesa. Wilayah terdampak meliputi Desa Sei Silau Tua dan Desa Bangun Sari, Kecamatan Setia Janji, dengan ketinggian air berkisar 30–80 sentimeter.
Dari total warga terdampak, sebanyak 2.910 jiwa berada di Desa Sei Silau Tua dan 700 jiwa lainnya di Desa Bangun Sari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Asahan melakukan kaji cepat, pendataan, dan penyaluran bantuan sembako. Banjir dilaporkan surut pada Rabu (28/10/2026), sehingga aktivitas warga kembali normal.
Kondisi berbeda terjadi di Kabupaten Aceh Selatan. Hujan lebat pada Rabu (28/10/2026) memicu luapan Sungai Lae Soraya dan Kruen Trumon Raya hingga merendam permukiman di Gampong Lhok Raya dan Gampong Cot Bayu, Kecamatan Trumon Tengah.
BPBD Kabupaten Aceh Selatan melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Sebanyak 46 warga Gampong Lhok Raya memilih mengungsi ke Kompi Brimob karena ketinggian air masih berpotensi bertambah. Sementara itu, air di badan jalan Gampong Cot Bayu mencapai 10–20 sentimeter dan juga diperkirakan masih dapat meningkat.
Banjir juga melanda Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara, setelah hujan deras pada Rabu (28/10/2026) sekitar pukul 18.00 WIB memicu luapan Sungai Simalagi. Air merendam 32 rumah dan berdampak pada satu fasilitas ibadah di Desa Binanga, Kecamatan Huta Bargot, serta Desa Rumbio, Kecamatan Panyabungan Utara.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Mandailing Natal turun ke lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa. Ketinggian air dilaporkan berangsur surut, sedangkan jalan yang sebelumnya tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat telah kembali bisa digunakan.
Di luar kejadian banjir, gempa bumi bermagnitudo 6,4 mengguncang wilayah laut Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, pada Kamis (29/10/2026) pukul 06.06 Waktu Indonesia Barat (WIB). Gempa berpusat pada koordinat 6,34 derajat Lintang Selatan dan 130,52 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 160 kilometer.
BPBD Kabupaten Kepulauan Tanimbar melaporkan gempa tersebut tidak dirasakan warga dan tidak berpotensi tsunami. Meski demikian, BPBD bersama BNPB tetap memantau perkembangan setelah kejadian untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan.
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Desa Wara’a, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, pada Rabu (28/10/2026) pukul 12.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Kebakaran menghanguskan lahan seluas sekitar 15 hektare. BPBD setempat bersama instansi terkait melakukan pemadaman dan berhasil mengendalikan api pada hari yang sama. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, sedangkan penyebab kebakaran masih diselidiki pemerintah setempat.
Rangkaian kejadian tersebut mendorong BNPB mengingatkan pemerintah daerah agar meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah rawan banjir dan angin kencang. Pemerintah daerah diminta memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyiagakan TRC, serta memastikan ketersediaan peralatan dan logistik untuk penanganan darurat.
Berdasarkan prakiraan BMKG, periode 30 Oktober hingga 2 November 2026 secara umum diperkirakan didominasi cuaca cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, hujan berintensitas sedang perlu diwaspadai di Aceh, Sumatra Utara, Jambi, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Kalimantan Barat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Adapun potensi angin kencang diperkirakan terjadi di Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.
Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan rawan angin kencang diimbau membersihkan saluran drainase, memangkas dahan pohon yang rapuh, serta memperkuat atap rumah. Warga juga diminta tidak membakar lahan sembarangan karena kondisi kering dan angin kencang dapat mempercepat penyebaran api. Jika menemukan potensi keadaan darurat, masyarakat diharapkan segera melapor kepada BPBD setempat agar penanganan dapat dilakukan secepatnya. []
Redaksi 1

