Ketegangan Iran-AS Mengancam Jalur Energi Dunia

Ketegangan Iran-AS Mengancam Jalur Energi Dunia

Bagikan:

Iran menilai jawaban AS atas tujuh syarat pembukaan Selat Hormuz belum memuaskan, sementara serangan militer, insiden kapal tanker, dan upaya mediasi Qatar berlangsung di tengah ancaman eskalasi konflik.

TEHERAN – Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menghadapi tekanan setelah Teheran menilai jawaban Washington atas syarat pembukaan Selat Hormuz belum memuaskan, sementara Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas pertahanan udara Iran di Pulau Qeshm, Selasa (3/11/2026).

Situasi tersebut memperlihatkan rapuhnya proses perundingan tidak langsung kedua negara. Di tengah upaya Qatar menjadi penengah, aktivitas militer dan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran strategis dunia.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan tanggapan Washington belum memenuhi tuntutan Teheran. Melalui unggahan di platform X pada Selasa, ia menulis, “America’s response to Iran’s rights and demands was not convincing, and they must fully and explicitly address Iran’s seven conditions and act upon them,”

Ia menambahkan, “Only in this case will the Strait of Hormuz be reopened.”

Perundingan tidak langsung tersebut membahas usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz selama dua hari apabila Washington memenuhi tujuh tuntutan Teheran. Di antara tuntutan itu ialah pencabutan sanksi dan penghentian blokade laut oleh AS.

Di sisi lain, Qatar berupaya menjaga komunikasi kedua negara agar proses perundingan tetap berjalan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menyebut kedua pihak masih berkomitmen pada proses negosiasi. Ia mengatakan keduanya “remain committed to the negotiation process“.

Al-Ansari juga menyampaikan bahwa Qatar memfasilitasi “real-time exchange of proposals between” AS dan Iran. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga pertukaran usulan di tengah meningkatnya ketegangan militer.

Di Washington, Trump mengonfirmasi bahwa militer AS menyerang sebuah fasilitas pertahanan antipesawat Iran pada Selasa dini hari. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyebut operasi tersebut sebagai serangan terbatas dan bukan perang.

Trump menggambarkan operasi itu sebagai “minor attack” dan mengatakan tindakan tersebut “wasn’t war”.

“They built an anti-aircraft facility. It took them about two months. We watched it get built. As soon as it was completed, we hit it last night,” kata Trump.

Media Iran melaporkan serangan tersebut menghantam Pulau Qeshm, kawasan Teluk yang berdekatan dengan Selat Hormuz. Sebelumnya, sejumlah pejabat AS menyebut serangan itu bersifat “defensive” dan dilakukan setelah Iran melepaskan tembakan ke arah pesawat Amerika.

Trump juga kembali membuka kemungkinan tindakan militer lanjutan. “I’m not looking to … kill lots of people,” ujarnya. Ia kemudian menambahkan, “If we have to, we’ll have to.”

Dalam wawancara telepon dengan Financial Times, Trump menyatakan puas dengan posisi Washington dalam kebuntuan menghadapi Iran. “We seem to be getting everything we want,” demikian pernyataan yang dikutip surat kabar tersebut.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dilaporkan telah memerintahkan militer negaranya untuk segera merespons setiap ancaman tanpa batasan geografis. Ia juga meminta pembaruan daftar sasaran militer. Sejumlah pejabat Iran bahkan menyebut negara-negara Eropa dan kabel bawah laut di kawasan Teluk berpotensi menjadi sasaran.

Ketegangan juga merembet ke sektor pelayaran komersial. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Rabu mengklaim empat kapal tanker minyak terbakar setelah menabrak ranjau laut ketika berusaha melewati jalur pelayaran yang dilarang di bagian selatan Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya yang disiarkan kantor berita resmi IRNA, IRGC menyebut kapal-kapal tersebut masih terbakar setelah ledakan. Dua kapal lainnya, menurut lembaga itu, ditahan karena melanggar pembatasan pelayaran.

Secara terpisah, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan dua proyektil tak dikenal menghantam ruang mesin sebuah kapal tanker pada Selasa. Insiden itu terjadi sekitar 14 mil laut atau 26 kilometer di timur laut Desa Limah, pesisir Oman. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Belum dapat dipastikan apakah insiden yang dilaporkan UKMTO tersebut berkaitan dengan peristiwa yang diklaim IRGC.

IRGC juga mengklaim pasukan pertahanan udaranya menembak jatuh pesawat nirawak MQ-9 buatan AS di atas Selat Hormuz pada pukul 04.30 waktu setempat atau 01.00 Waktu Greenwich (GMT). Iran menyebut peristiwa tersebut sebagai penembakan ke-56 terhadap pesawat sejenis.

Dalam pernyataannya, IRGC mengatakan operasi dilakukan oleh pasukan laut dan kedirgantaraan mereka serta mengklaim telah memberikan “heavy blows on the enemy”.

Meningkatnya aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz menjadi perhatian karena jalur tersebut merupakan salah satu lintasan penting bagi perdagangan dan pengiriman energi dunia. Gangguan berkepanjangan berpotensi menghambat pelayaran serta meningkatkan ketidakpastian pasokan energi global.

Ilmuwan politik AS, John Mearsheimer, mempertanyakan efektivitas rencana serangan udara lanjutan dalam mencapai tujuan Washington. Ia memperingatkan bahwa pembalasan Iran dapat menyeret AS ke dalam konfrontasi yang lebih panjang.

“If the 40-day bombing campaign didn’t work, how is the three-day bombing campaign going to work?” ujarnya, merujuk pada kampanye serangan udara awal AS-Israel dan usulan operasi militer baru dengan durasi lebih singkat.

Mearsheimer menilai respons Iran dapat memicu eskalasi lanjutan dari AS dan memperbesar kerugian terhadap perekonomian global.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, tetapi belum mampu meredam seluruh risiko konflik. Keberhasilan Qatar mempertahankan komunikasi kedua pihak dan kesediaan Iran-AS menindaklanjuti perundingan akan menjadi faktor penting dalam mencegah ketegangan berkembang menjadi perang yang lebih luas, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Rabu, (04/11/2026). []

Redaksi 01

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang