Jurnalis foto Abdulrahman al-Houri tewas ketika mendokumentasikan pertempuran di Marib, sementara Serikat Jurnalis Yaman mendesak penyelidikan dan perlindungan bagi pekerja media di wilayah konflik.
MARIB – Kematian jurnalis foto Abdulrahman al-Houri saat meliput pertempuran di Provinsi Marib, Yaman, kembali menyoroti ancaman keselamatan pekerja media di wilayah konflik bersenjata. Serikat Jurnalis Yaman mendesak penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap penyebab kematian al-Houri sekaligus memastikan pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.
Al-Houri tewas ketika merekam situasi pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi di wilayah selatan Marib pada Jumat, 6 November 2026. Saat bertugas, jurnalis muda tersebut memasok rekaman video dan foto kepada sejumlah media serta wartawan yang bekerja di provinsi itu.
Serikat Jurnalis Yaman menyampaikan belasungkawa atas kematian al-Houri. Organisasi tersebut juga menuntut penyelidikan untuk mengungkap secara jelas keadaan yang menyebabkan jurnalis foto itu kehilangan nyawa.
Selain meminta pertanggungjawaban pihak terkait, serikat mendesak agar jurnalis dan seluruh pekerja media memperoleh perlindungan selama menjalankan tugas di tengah konflik bersenjata. Desakan tersebut disampaikan menyusul kematian al-Houri yang terjadi ketika ia mendokumentasikan pertempuran di garis depan.
Sebagaimana dilansir Metro TV, Minggu (08/11/2026), laporan Serikat Jurnalis Yaman mengenai kematian al-Houri disampaikan pada Sabtu, 7 November 2026. Informasi tersebut juga dikutip dari Anadolu.
Pertempuran Marib kembali menelan korban
Di tengah kabar kematian jurnalis tersebut, militer Yaman secara terpisah mengumumkan dua komandannya tewas dalam pertempuran melawan kelompok Houthi di Marib. Namun, pihak militer tidak mengungkap waktu kematian maupun menjelaskan secara terperinci kronologi peristiwa tersebut.
Marib menjadi wilayah strategis karena pasukan pemerintah masih menguasai kota utama serta sejumlah ladang minyak dan gas. Sementara itu, kelompok Houthi mengendalikan beberapa distrik di kawasan pedesaan provinsi tersebut.
Konflik Yaman telah berlangsung sejak 2014, ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah wilayah lainnya. Setahun kemudian, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Intervensi tersebut memicu perang berkepanjangan yang turut memperburuk kondisi kemanusiaan di negara itu. Situasi kembali memanas pada Juli 2026 setelah gencatan senjata yang berlaku sejak 2022 runtuh dan memicu eskalasi baru antara pasukan pemerintah dengan kelompok Houthi.
Kematian al-Houri menambah perhatian terhadap risiko yang dihadapi jurnalis ketika meliput pertempuran secara langsung. Di tengah berlanjutnya konflik, perlindungan terhadap pekerja media dan penyelidikan atas kematian jurnalis menjadi penting agar peliputan peristiwa di wilayah perang dapat berlangsung tanpa mengabaikan keselamatan mereka. []
Redaksi 03

