BEIRUT – Ketegangan di Lebanon selatan kembali memanas setelah serangan militer Israel menewaskan sedikitnya 14 orang di tengah berlangsungnya gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah, memicu kekhawatiran atas pelanggaran kesepakatan damai yang baru berjalan.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan korban tewas mencakup dua perempuan dan dua anak, sementara 37 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Informasi ini sebagaimana dilansir Afp, Senin (27/04/2026).
Serangan terjadi setelah militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi terhadap tujuh wilayah di Lebanon selatan. Media pemerintah melalui Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan bahwa pesawat tempur Israel menggempur kawasan Kfar Tibnit, salah satu lokasi yang sebelumnya telah diperingatkan untuk dikosongkan, serta mencatat adanya korban jiwa.
Di sisi lain, militer Israel menyatakan langkah tersebut merupakan respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah. “Mengingat pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh organisasi teroris Hizbullah, Israel Defense Forces (IDF) terpaksa mengambil tindakan tegas terhadapnya,” kata juru bicara militer berbahasa Arab, Avichay Adraee, melalui platform X.
Berdasarkan ketentuan gencatan senjata, Israel disebut memiliki kewenangan untuk bertindak terhadap ancaman yang dinilai sebagai serangan yang direncanakan, segera terjadi, atau sedang berlangsung. Meski demikian, serangan terbaru ini menambah daftar operasi militer Israel sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan pada 17 April di wilayah perbatasan yang dikenal sebagai “garis kuning”.
Situasi tersebut memperlihatkan rapuhnya implementasi gencatan senjata di kawasan, di tengah meningkatnya ketegangan dan potensi eskalasi konflik antara kedua pihak.[]
Redaksi05

